JOMBANG.TV-Di sebuah bangunan sederhana di dalam perkebunan Panglungan, Wonosalam, Jombang, aroma manis fermentasi singkong perlahan merambat keluar jendela kayu.
Sunartin, 49 tahun, pegawai Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Panglungan, tengah membuka satu per satu bungkus daun pisang. Di dalamnya, singkong putih mulai berubah warna, lembut, harum, dan berair manis. Itulah tape buatan tangannya.
“Baru coba bikin,” ucap Sunartin, ketika ditemui di stan PDP Panglungan yang ada di festival bazar Peterongan. menyeka keringat di pelipis. Senyumnya malu-malu, tapi matanya berbinar.
Keputusan itu lahir bukan dari sekadar hobi, melainkan dari ide brilliant. Harga singkong anjlok tajam, hanya Rp500 per kilogram. Padahal, keputusan untuk menanam singkong di area kebun di Panglungan sudah dilakukan.
“Kalau dijual mentah, habis di ongkos,” katanya. Dari sanalah Sunartin dan kawan-kawan mulai berpikir, bahwa singkong tak bisa lagi hanya diperlakukan sebagai bahan mentah.
Agus Mujiono, Direktur PDP Panglungan, mengamini kegelisahan itu. “Kami mendorong para pegawai untuk berani diversifikasi. Kalau hanya menjual singkong, jelas merugi. Harus diolah, harus ada nilai tambah,” katanya.
Sunartin lalu mencoba. Ia dan pegawai yang lain mencoba 100 kilogram singkong untuk ldari hasil tanam kebun untuk dijadikan percobaan pembuatan tape singkong.
Prosesnya butuh ketelatenan. Singkong dikupas, dicuci, dikukus, lalu diberi ragi, sebelum akhirnya dibungkus daun pisang. “Butuh dua sampai tiga hari baru matang,” katanya sambil menunjukkan deretan wadah tape yang tersusun rapi di pojok dapurnya.
Tape-tape tersebut diberi nama Tape Kebun 99 Panglungan. Hasilnya cukup mengejutkan. Hanya dalam waktu 2 jam, Tape Sunartin mendapat sambutan hangat dari pengunjung festival bazar UMKM di Peterongan, Sabtu (30/08/2025).
Tak cuma tape Panglungan yang dijual dalam festival bazar UMKM di Peterongan, Agus juga membawa pete dan komoditas unggulan yakni Kopi ekselsa.
“Alhamdulillah sudah ada yang laku. Lumayan banyak. Ini bikin semangat,” ujarnya.
Bagi Agus Mujiono, langkah Sunartin bukan sekadar usaha pribadi, melainkan contoh nyata bagaimana pegawai perkebunan mampu memandang jauh ke depan.
Agus bahkan turun langsung untuk mempromosikan produk-produk PDP Panglungan tanpa gengsi.
“Ini bukti bahwa kreativitas bisa lahir dari krisis. Sunartin memberi teladan, singkong tak lagi berhenti di gudang, tapi bisa naik kelas jadi produk olahan,” katanya.
Kini, PDP Panglungan terus menimbang rencana memperluas produksi. Jika permintaan meningkat, kapasitas bisa ditambah lebih besar.
“Saya ingin membuktikan, meski harga singkong jatuh, kita tetap bisa bangkit. Singkong ini bisa jadi berkah, bukan beban,” tutur Agus.
Di Panglungan, perjuangan kecil itu menyalakan harapan besar. Dari dapur seorang pegawai sederhana, lahirlah ikhtiar mengubah Rp500 per kilo menjadi cita rasa manis yang bernilai berkali lipat.
“Kebetulan saat ini Abah Bupati Warsubi juga tengah mempromosikan produk-produk PDP Panglungan di Jakarta saat momentum APKASI. Nah di Jombang, kami juga berkreasi untuk memaksimalkan pendapatan dan agar Panglungan juga bisa makin dikenal dengan beragam komoditasnya,” papar Agus.
Tape Panglungan ini bukan hanya sekedar olahan makanan, ia adalah simbol, bahwa ketika pasar tak berpihak, kreativitaslah yang jadi penyelamat. (FIT)
Komentar untuk post