JOMBANGTV – Pondok Pesantren (Ponpes) yang telah menyejarah dalam sistem pendidikan di Indonesia, tidak sebatas mengajarkan ilmu keagamaan semata. Tetapi juga turut mewariskan pilar budaya literasi dan tradisi intelektualnya di pelbagai bidang. Mulai dari bidang agama, hukum, kesehatan, ekonomi, gender, sampai politik.
Salah satunya ialah Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak. Dalam sejarahnya, Ponpes yang telah berdiri sejak tahun 1921 silam dan didirikan oleh KH. Ma’shum Ali dan Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim ini, telah mewarnai budaya literasi dan tradisi intelektual lewat ilmu falak dan kajian kesetaraan gender.
Guna menghidupi warisan tradisi intelektual dan budaya literasi tersebut, pada Sabtu (18/4/2026), jajaran pengasuh dan guru di tiap jenjang MI, MTs, sampai MA, menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk Program Literasi Terpadu, dan bertempat di Aula MA Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak. Dalam FGD ini, dua pembahasan utama ihwal pematangan kompetensi dan potensi berliterasi di lingkup guru dan para santri.
Direktur Pendidikan Madrasah Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak, H. Fardan Hamdani, S.Fil., M.Ag. menjabarkan, pembahasan pertama fokus kepada penjabaran roadmap berkelanjutan dan berdampak dari Program Literasi Terpadu ini. Mulai dari konsep dasar, manfaat dan nilai strategis, jejaring, hingga bentuk turunan praktik berliterasi ke tiap jenjang pendidikan yang ada.
“Kemudian kedua adalah pembahasan yang paling penting ialah, bagaimana guru harus menjadi role model dalam Program Literasi Terpadu ini. Karena secara jangka panjang, berkelanjutan dan berdampak, Program Literasi Terpadu akan menaungi proses pengkaryaan guru dan para santri sebagai reputasi sekaligus branding akademiknya,” ujar Fardan Hamdani.
Lebih lanjut, Fardan Hamdani menambahkan, selain bertujuan merawat warisan budaya literasi dan tradisi intelektual para masyayikh Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Program Literasi Terpadu ini juga akan merekam jejak intelektual bagi guru maupun para santri.
Sementara itu, turut hadir pula Ketua Majelis Pengasuh Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Hj. Nur Laili Rahmah, M.Pd.I. Dalam diskusi yang berlangsung, ditegaskannya bahwa Program Literasi Terpadu ini wajib dan penting untuk menghidupkan kembali tradisi literasi dan budaya intelektual di Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak.
“Guru di awal Program Literasi Terpadu ini bisa berlatih menulis dengan membuat catatan-catatan refleksi yang harus ditulis usai pembelajaran. Ini praktik strategis dan sederhana yang bisa dilakukan semua guru tanpa terkecuali. Sehingga hasilnya akan selaras dengan tujuan dan substansi dari Program Literasi Terpadu Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak,” ujar Nur Laili Rahmah.
Senyampang dengan upaya pemberdayaan penulisan bagi guru di lingkup Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Fasilitator Program Literasi Terpadu Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Donny Darmawan, S.Hum. menjelaskan, tradisi dan budaya menulis bagi guru dan santri masih tetap relevan. Namun tidak bisa ditampik jikalau kendala guru untuk memulai menulis ialah rasa kurang percaya diri dan keraguan terhadap kemampuan maupun hasil tulisannya.
“Untuk mengatasinya, tentu harus dimulai dari ketegasan alasan untuk menulis. Jika sudah menemukan alasan untuk menulis, maka membentuk kerangka konsep tulisan sederhana wajib dilakukan. Dan menulis bisa dimulai dari hal kecil sederhana. Bisa refleksi pembelajaran, juga pengalaman mengajar selama di sekolah. Jadi menulis saja. Sebab menulis bisa menjadi investasi pengetahuan yang panjang,” ujar Donny Darmawan.
Penulis : Donny Darmawan, S.Hum.










Komentar untuk post