JOMBANG.TV – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Jombang terus diperkuat. Salah satunya melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader Pendamping Ibu Hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang di Ruang Bung Tomo Pemkab Jombang, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan yang diikuti 100 kader kesehatan dari 18 puskesmas se-Kabupaten Jombang tersebut dibuka oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, serta dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada, MKP, Ketua PERSAGI Kabupaten Jombang Nur Kamalia, jajaran TP PKK, dan para kader pendamping ibu hamil.
Yuliati Nugrahani Warsubi menegaskan bahwa masalah KEK pada ibu hamil bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi bangsa. Menurutnya, pemenuhan gizi ibu hamil menjadi faktor penting dalam mencegah stunting sejak dini.
“Ketika seorang ibu hamil tidak memiliki nutrisi yang cukup, bukan hanya kesehatannya yang terancam, tetapi juga masa depan anak yang dikandungnya. Karena itu, perhatian terhadap ibu hamil KEK harus menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Yuliati menilai kader kesehatan dan kader PKK memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, kader tidak hanya bertugas melakukan pendataan, tetapi juga harus mampu menjadi sahabat bagi ibu hamil melalui pendampingan, motivasi, dan dukungan berkelanjutan.
“Kader harus hadir dengan hati. Pendampingan bukan sekadar memenuhi laporan administrasi, tetapi bagaimana ibu hamil merasa diperhatikan, didukung, dan termotivasi untuk menjaga kesehatan selama masa kehamilan,” katanya.
Ia juga mengajak para kader untuk terus memperkuat edukasi gizi seimbang melalui pemanfaatan pangan lokal bergizi, meningkatkan koordinasi dengan tenaga kesehatan, serta aktif mengedukasi keluarga agar turut mendukung kesehatan ibu hamil.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, MKP, menyampaikan bahwa stunting masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Jombang tercatat sebesar 17,2 persen. Adapun berdasarkan laporan Si Gizi Kesga per April 2026, angka stunting berada pada 3,31 persen. Meski menunjukkan tren yang baik, upaya percepatan penurunan stunting tetap harus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap terjadinya stunting adalah kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Oleh sebab itu, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pendampingan yang tepat dan berkesinambungan.
“Kader kesehatan memiliki peran yang sangat strategis sebagai ujung tombak pemberdayaan masyarakat. Kader tidak hanya menyampaikan informasi kesehatan, tetapi juga menjadi pendamping, motivator, dan penghubung antara masyarakat dengan tenaga kesehatan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, para kader mendapatkan pembekalan mengenai gizi ibu hamil dan menyusui, teknik pendampingan ibu hamil KEK, hingga pengisian aplikasi e-Tibi. Selain pemaparan materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab untuk memperkuat pemahaman serta menyamakan langkah dalam pelaksanaan pendampingan di lapangan.
Yuliati Nugrahani Warsubi turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader yang selama ini bekerja secara sukarela dan penuh dedikasi dalam mendukung program kesehatan masyarakat.
“Kerja keras para kader adalah investasi masa depan bagi anak-anak Jombang. Apa yang dilakukan hari ini akan menentukan kualitas generasi yang akan datang,” ungkapnya.
Melalui penguatan kapasitas kader pendamping ibu hamil KEK, Pemerintah Kabupaten Jombang berharap upaya pencegahan stunting dapat dilakukan lebih efektif sejak masa kehamilan, sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkualitas, dan bebas stunting. (Fit)









Komentar untuk post