JOMBANG.TV – Kematian CH (47), warga Dusun Pajaran, Desa/Kecamatan Peterongan, menyisakan dugaan penganiayaan yang dilakukan kakak kandungnya sendiri di tempat kos kosan Desa/Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
Adanya kecurigaan tersebut, pihak kepolisian akhirnya melakukan pembongkaran makam (Ekshumasi) korban, pada Minggu (14/06/26) sore.
Dari hasil ekshumasi dan otopsi, polisi memastikan kematian korban adalah kematian tidak wajar.
“Kematiannya tidak wajar, namun seperti apa hasil otopsinya, kami harus menyusun dulu, namun dipastikan memang tidak wajar,” ungkap Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Dimas Robin Alexander, Senin 15/06/26.
Dikatakan Dimas, pihaknya juga memastikan telah mengamankan kakak korban yakni S yang merupakan terduga pelaku penganiayaan. Namun, pemeriksaan belum bisa dilakukan secara maksimal kepadanya.
“Untuk kakak korban sudah diamankan setelah ekshumasi, namun pemeriksaan belum maksimal, dia lebih banyak diam dan tidak menjawab ketika diperiksa,” katanya.
Dari pemeriksaan yang dilakukan, memang ditemukan adanya dugaan penganiayaan berat yang diterima korban sebelum korban meninggal dunia.
“Jadi berdasarkan keterangan saksi, memang ada penganiayaan dan sudah berulang kali, baik dengan tangan, dengan sapu maupun korban yang dibenturkan ke tembok, karena warga mendengar dan melihat itu,” terangnya.
Selain itu, sejumlah barang bukti seperti sapu dan beberapa benda lain diamankan dari rumah kos korban setelah olah TKP ulang. Sementara hingga kini, untuk status kakak korban disebutnya masih terperiksa.
“Untuk statusnya kami masih harus gelarkan dulu sebelum nanti dilakukan penetapan tersangka,” pungkasnya.
Sebelumnya, korban yang merupakan seorang wanita berkebutuhan khusus meninggal di kamar kos kosan di Desa Jogoroto, pada Jum’at (12/06/26) siang.
Sebelum meninggal dunia, korban mendapatkan perlakuan kasar diduga berulang kali dipukuli menggunakan tangan kosong hingga benda tumpul oleh kakak kandungnya S (50), yang satu kos dengan korban.
Hal itu, diungkap tetangga kos korban, Ayu Syarifah Wulandari, 26, mengatakan, pagi itu korban sempat rewel dan meminta kakaknya tidak berangkat bekerja. Tak lama kemudian, keributan terdengar dari dalam kamar yang ditempati kakak beradik tersebut.
”Kemudian kembali lagi keluar katanya marah-marah sampai diseret, bajunya ditelanjangi. Bilangnya karena makan satu kilogram bumbu pecel, kan tidak mungkin, semua orang sini tidak percaya,” ujar Ayu.
Selang beberapa saat pelaku keluar sambil menangis dan meminta pertolongan kepada tetangga dengan alasan adiknya terjatuh di kamar mandi.
Namun saat warga melihat kondisi korban, CH sudah tidak bernyawa. Sejumlah luka juga ditemukan di tubuh korban.
“Alasannya ke tetangga jatuh di kamar mandi. Ada luka di tangan dan kaki bengkak semua, telinga robek dan berdarah, mata lebam, bekas cekikan juga,” jelasnya.(tam)








Komentar untuk post