JOMBANG.TV — Matahari pagi baru saja menghangatkan langit Jombang ketika rombongan Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, meninggalkan Pendopo Kabupaten Jombang, Kamis (21/5/2026).
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kerja. Bagi Yuliati, ini adalah perjalanan menyusuri ruang-ruang kreativitas yang selama ini tumbuh dalam kesabaran, ketekunan, dan kecintaan masyarakat terhadap karya.
“Setiap produk yang kita lihat hari ini memiliki cerita panjang di belakangnya. Ada kerja keras, ketelatenan, bahkan pengorbanan yang sering kali tidak terlihat. Karena itu saya ingin melihat langsung bagaimana karya-karya unggulan Jombang lahir dari tangan para perajin,” ujarnya.
Ketika Limbah Kaca Menjadi Karya Bernilai Ekspor
Tujuan pertama berada di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo. Sebuah desa yang namanya telah dikenal luas sebagai sentra kerajinan manik-manik kaca, bahkan produknya telah menembus pasar internasional.
Di studio kerajinan milik Wahid, Yuliati menyaksikan sesuatu yang mungkin jarang dilihat banyak orang. Bukan hanya deretan kalung, gelang, atau aksesori cantik yang sudah jadi, melainkan seluruh proses panjang yang melahirkan karya-karya tersebut.
Tumpukan limbah kaca dari rumah tangga maupun pabrik menjadi titik awal cerita.
Kaca-kaca bekas itu dihancurkan menjadi serpihan kecil. Setelah itu dimasukkan ke dalam mesin pemanas bersuhu lebih dari 200 derajat Celsius hingga berubah menjadi adonan kaca yang panas membara.
Dari mesin tersebut, adonan keluar dalam bentuk batangan panjang sebelum akhirnya dibentuk menjadi butiran-butiran kecil sesuai kebutuhan.
Di tahap inilah ketelitian benar-benar diuji.
Dengan bantuan alat pemanas, para perajin membentuk satu per satu butiran manik-manik sesuai karakter yang diinginkan. Setelah dingin, butiran tersebut kemudian dirangkai menggunakan benang khusus menjadi kalung, gelang, bros, hingga berbagai aksesori bernilai seni tinggi.
Yuliati memperhatikan setiap tahapan dengan seksama. Sesekali ia bertanya tentang proses produksi dan nilai jual produk yang dihasilkan.
“Saya benar-benar terharu melihat prosesnya. Dari limbah kaca yang mungkin dianggap tidak bernilai, di tangan para perajin bisa berubah menjadi karya yang indah dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Ini bukan sekadar kerajinan, tetapi juga tentang kreativitas, ketekunan, dan harapan hidup banyak keluarga,” ungkapnya.
Perjuangan Perajin di Balik Setiap Butir Manik-Manik

Semakin lama menyaksikan proses produksi, semakin besar rasa kagum Yuliati terhadap para perajin. Namun di saat yang sama, ia juga mengaku terenyuh.
Menurutnya, panjangnya proses produksi sering kali tidak sebanding dengan nilai yang diterima para perajin.
“Betapa panjang dan rumit proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah karya, sementara nilai jual yang diterima para perajin sering kali belum sebanding dengan tenaga, waktu, dan keterampilan yang dicurahkan. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar para perajin mendapatkan apresiasi yang lebih layak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tugas Dekranasda tidak hanya berhenti pada promosi produk.
“Tugas kita bukan hanya mengagumi hasil akhirnya, tetapi juga memastikan para perajin mendapatkan penghargaan yang layak. Karena di balik setiap produk yang kita lihat, ada waktu, tenaga, keterampilan, dan perjuangan yang tidak sedikit,” tambahnya.
Dari studio Wahid, perjalanan berlanjut ke rumah produksi manik-manik milik Eko yang masih berada di desa yang sama.
Di tempat itu, Yuliati kembali melihat bagaimana kreativitas masyarakat mampu mengubah bahan yang dianggap limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Sebuah bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi besar, tetapi sering kali muncul dari tangan-tangan sederhana yang tekun bekerja setiap hari.
“Dekranasda harus hadir lebih dekat dengan para perajin. Kita ingin membantu membuka akses pasar yang lebih luas, memperkuat promosi, sekaligus mendorong peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Menyusuri Jejak Batik Khas Jombang di Jatipelem
Perjalanan kemudian bergeser menuju Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek. Di sana, rombongan singgah ke Batik New Colet milik Sutrisno.
Nama “New Colet” ternyata memiliki cerita yang sederhana namun membumi. Berawal dari pengalaman Sutrisno membantu membatik pada tahun 2000, ia terinspirasi dari aktivitas “nyolet” atau memberi warna pada motif batik.
Dari situlah lahir nama Batik New Colet.
Di ruang produksi tersebut, Yuliati melihat langsung bagaimana selembar kain putih perlahan berubah menjadi karya penuh makna.
Salah satu motif yang paling dikenal adalah motif pohon jati dan buah mangga. Motif yang terinspirasi dari identitas Desa Jatipelem itu mengandung filosofi yang kuat: setiap karya harus terus bertumbuh, berbuah, dan memiliki kekuatan sebagaimana kokohnya pohon jati.
Motif tersebut kini telah menjadi salah satu identitas batik khas Jombang.
Bahkan salah satu karya Batik New Colet baru-baru ini dipercaya menjadi seragam jamaah haji Kabupaten Jombang.
“Batik bukan hanya selembar kain. Di dalamnya ada identitas, sejarah, nilai budaya, dan cerita tentang masyarakat yang harus terus kita jaga. Karena itu saya sangat mengapresiasi para perajin yang tetap konsisten melestarikan batik khas Jombang,” tutur Yuliati.
Belajar Membatik, Menjaga Warisan Budaya Sejak Dini
Suasana semakin hidup ketika Yuliati mendapati rombongan siswa MIN 2 Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, sedang mengikuti praktik membatik.
Anak-anak itu duduk rapi sambil memegang kuas, belajar mengenal batik bukan hanya sebagai pakaian, melainkan sebagai warisan budaya.
Dengan penuh kesabaran, para pengrajin mengajarkan setiap tahap membatik, mulai dari menggambar pola hingga proses pewarnaan.
Pemandangan itu menghadirkan optimisme tersendiri. Bahwa regenerasi perajin masih terus berlangsung dan batik Jombang memiliki masa depan yang panjang.
“Pemandangan seperti ini sangat membahagiakan. Ketika anak-anak mulai mengenal batik sejak dini, sesungguhnya kita sedang menanamkan rasa cinta terhadap budaya sekaligus menyiapkan generasi penerus yang akan menjaga warisan daerah,” katanya.
Menurut Yuliati, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan oleh para perajin. Regenerasi harus terus dibangun agar warisan budaya daerah tetap hidup dan berkembang mengikuti zaman.
Batik Sekar Jati dan Semangat Perempuan Penggerak Ekonomi
Perjalanan hari itu ditutup di Batik Sekar Jati by Ririn.
Begitu memasuki area galeri, suasana khas Jawa langsung terasa. Udara sejuk, interior bernuansa tradisional, serta aroma kopi yang disuguhkan dalam bentuk cold brew menjadi sambutan menyegarkan bagi para tamu.
Di tempat itu, Yuliati mendengarkan kisah perjalanan Ririn Asih Pindari yang terjun ke dunia batik. Mengenal setiap pola dan desain yang makin berkembang, dari produk dengan harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.
Melalui Batik Sekar Jati, Ririn mengembangkan batik tulis dengan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan dan pepohonan. Ia memadukan motif tradisional dengan sentuhan modern agar mampu diterima pasar yang lebih luas tanpa kehilangan akar budaya.
Baginya, setiap lembar batik bukan sekadar produk, melainkan bentuk diplomasi budaya Indonesia yang lembut namun bermakna.
“Saya melihat semangat luar biasa dari para pelaku UMKM. Mereka bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membantu menggerakkan ekonomi keluarga, membuka lapangan kerja, dan menjaga budaya tetap hidup,” ujar Yuliati.
Dekranasda sebagai Jembatan Karya Lokal ke Pasar yang Lebih Luas
Yuliati tampak menikmati setiap cerita yang disampaikan para perajin sepanjang perjalanan hari itu.
Dari limbah kaca yang berubah menjadi perhiasan bernilai ekspor di Plumbongambang hingga batik yang lahir dari kecintaan terhadap budaya di Jatipelem, ia melihat satu benang merah yang sama, yaitu ketangguhan para pelaku UMKM, terutama perempuan, yang menjaga roda ekonomi keluarga sekaligus melestarikan identitas daerah.
Menjelang siang, kunjungan berakhir. Namun bagi Yuliati Nugrahani Warsubi, perjalanan itu justru mempertegas arah perjuangannya sebagai Ketua Dekranasda Kabupaten Jombang.
“Jombang memiliki kekayaan kreativitas yang luar biasa. Dari manik-manik kaca hingga batik, semuanya lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat kita. Dekranasda akan terus berupaya menjadi jembatan agar karya-karya ini semakin dikenal, semakin dihargai, dan mampu membawa nama Jombang lebih jauh lagi,” tegasnya.
Menurutnya, tugas Dekranasda tidak cukup hanya mempromosikan produk. Lebih dari itu, Dekranasda harus hadir sebagai jembatan yang menghubungkan karya-karya lokal dengan pasar yang lebih luas, membuka peluang kolaborasi, memperkuat nilai jual produk, sekaligus memastikan para perajin mendapatkan penghargaan yang layak atas ketekunan mereka.
“Saya percaya ketika seorang perajin berkembang, maka keluarganya ikut kuat, ekonominya ikut tumbuh, dan desanya ikut maju. Karena itu memberdayakan UMKM sesungguhnya adalah memberdayakan masa depan Jombang,” pungkasnya.
Sebab di balik setiap manik-manik yang dirangkai dengan sabar dan setiap motif batik yang ditorehkan dengan canting, terdapat mimpi, penghidupan, dan masa depan keluarga yang sedang diperjuangkan.
Dan selama tangan-tangan kreatif itu terus berkarya, Yuliati ingin memastikan bahwa Dekranasda selalu berada di sisi mereka, menjaga nyala kreativitas, mengangkat martabat para perajin, dan membawa karya-karya terbaik Jombang melangkah lebih jauh ke panggung nasional maupun dunia. (Fit)









Komentar untuk post