JombangTv – Di Gedung Kesenian Jombang yang malam itu dipadati penonton, Komunitas Tombo Ati kembali menorehkan sejarah dengan mementaskan karya ke-45 mereka, lakon berjudul “Utiku Sayang.” Naskah ini merupakan alih bahasa dari karya klasik Maestro Arifin C. Noer, “Nenekku Tercinta,” yang diterjemahkan ulang oleh Choirul Anam dan Fandi Ahmad. Dalam tiga kali show yang digelar, seluruh kursi penonton ludes terjual, menandai antusiasme luar biasa dari masyarakat Jombang terhadap seni pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan cara yang tak lazim namun langsung mencuri perhatian. Kilatan lighting menghantam panggung, diiringi dentuman musik keras khas sound horeg yang mengguncang ruangan. Suasana tegang dan misterius perlahan bertransisi menjadi rasa penasaran massal. Lalu muncul sekelompok aktor dengan dandanan unik—rambut kribo warna-warni, wajah dilapisi makeup putih pekat, langkah mereka berlenggak-lenggok layaknya dancer jalanan yang membawa energi baru di atas panggung.

Kelompok ini bergerak lincah di setiap sudut panggung, tampak seperti kekacauan yang teratur. Salah satu aktor tampil dengan gaya komikal yang memicu tawa spontan, membuat penonton langsung memahami satu hal: pementasan ini tidak hanya serius, tetapi juga penuh kejutan yang menghibur.

Kejutan berikutnya hadir ketika komedian Ukil muncul sebagai asisten dukun. Dengan gestur berlebihan, mimik wajah jenaka, dan dialog yang diolah menjadi humor segar, Ukil menjadi pemecah suasana dalam adegan-adegan tegang. Setiap kali ia masuk panggung, gelak tawa sontak pecah. Kehadirannya memberi warna baru dalam kisah yang sebenarnya sarat ironi dan kegelapan, membuat penonton terus terjaga antara tawa dan ketegangan.

Di balik pembukaan yang penuh warna itu, “Utiku Sayang” menyajikan cerita tentang Uti, seorang nenek tua yang mulai pikun namun tetap memancarkan kelembutan dan kepolosan. Meski hidupnya sederhana, kasihnya tetap tulus—bahkan ketika orang-orang terdekatnya tak lagi memedulikannya.

Tokoh Lastri, anak Uti, digambarkan sebagai sosok yang terjerat ambisi dan keputusasaan. Bersama iparnya, Musta’, ia merencanakan sesuatu yang kejam: mengakhiri hidup Uti dengan bantuan dukun. Di sinilah peran Ukil makin mencolok—sebagai asisten dukun yang konyol, ia menjadi jembatan antara kelamnya rencana Lastri dan komedi yang membuat penonton tetap terhubung dengan emosi cerita.

Ketika Bambang, cucu yang sangat menyayangi Uti, datang dan mengetahui rencana busuk itu, suasana berubah tegang. Dengan kemarahan yang menyayat, ia menghardik Lastri dan Musta’. Penonton terdiam, larut dalam intensitas emosi yang memuncak. Bambang menjadi suara hati penonton—menolak keras ketidakadilan yang menimpa Uti.

Namun ironi kembali muncul saat Uti bercerita polos bahwa ia bermimpi didoakan mati oleh anak dan menantunya. Cara Uti menyampaikan cerita, dengan nada tenang dan penuh kepolosan, justru menusuk lebih dalam. Penonton terdiam, merasakan campuran haru dan getir yang menggema di dalam ruangan.

Ketegangan mencapai puncak ketika Dudung, anak Lastri, tiba-tiba jatuh dari susunan sound horeg. Peristiwa itu seperti simbol karma yang datang tanpa ampun. Lastri pun luluh dan memohon maaf kepada Uti, membuka pintu penyelesaian yang lebih manusiawi bagi konflik keluarga ini.

Di bawah arahan sutradara Alfi Rizqoh, pementasan ditutup tanpa dramatisasi berlebihan. Justru kesederhanaan di akhir cerita itulah yang membuat penonton tenggelam dalam renungan. Tepuk tangan panjang menggema memenuhi ruangan, sebagai bentuk apresiasi bagi seluruh pemain dan kru yang berhasil menghidupkan kembali naskah klasik ini menjadi pertunjukan modern yang kaya warna, emosi, humor, dan ironi.

Pementasan ke-45 ini kembali menegaskan bahwa Komunitas Tombo Ati bukan sekadar kelompok seni, tetapi kekuatan budaya yang menjaga nyala teater di Jombang tetap bersinar. Melalui “Utiku Sayang,” mereka berhasil menyatukan tawa, air mata, dan pesan moral dalam satu panggung yang sulit dilupakan. (Lw2/Ai)












Komentar untuk post