JOMBANG.TV-Program Puspa Goes to Desa kembali digelar. Kali ini acara diselenggarakan di Balai Desa Tanggungkramat, Ploso. Puspa Goes to desa dilakukan untuk memperkuat kapasitas perempuan di tingkat akar rumput melalui edukasi tentang hak, perlindungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri utama Fifi Ekawati Rohmah dari Yayasan Pesantren Srikandi dan Niken Kinesti, fasilitator Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Turut hadir pula jajaran pendukung dari pemerintah daerah, yakni Eko Supriyanto (Kabid PKHPA Dinas PPKB PPPA), Nova (Plt Kepala UPTD PPA), serta koordinator penyuluh KB Bekti dan Ginanjar.
Perempuan Didorong Lebih Berdaya dan Terlindungi Lewat 10 Indikator DRPPA
Pada sesi pertama, Fifi Ekawati Rohmah menjelaskan pentingnya memahami 10 indikator Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Ia menegaskan bahwa indikator ini bukan hanya standar administrasi, tetapi alat untuk memperbaiki kualitas hidup perempuan di desa.
“DRPPA ini adalah kerangka yang memastikan perempuan benar-benar dilibatkan, dilindungi, dan diberdayakan. Kalau indikator ini terpenuhi, perempuan di desa bisa hidup lebih aman, sejahtera, dan punya ruang untuk berperan,” tegas Fifi, Rabu (3/12/2025)
Ia juga menambahkan bahwa upaya pemberdayaan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tapi semua pihak.
“Kami ingin mengajak perangkat desa, kader, dan perempuan itu sendiri untuk bersama-sama menjaga lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak. Ini kerja kolaboratif, bukan kerja satu institusi,” ujarnya.
Sekolah Perempuan (Sekoper): Ruang Belajar, Ruang Bertumbuh
Materi kedua dibawakan oleh Niken Kinesti yang memaparkan konsep Sekoper atau Sekolah Perempuan, program nonformal yang menjadi andalan PUSPA dan telah berjalan di berbagai kota.
“Sekoper ini ruang untuk perempuan belajar memahami dirinya, memahami haknya, sekaligus melatih kemampuan kepemimpinan. Banyak perempuan selama ini tidak bicara bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak diberi ruang,” jelas Niken.
Ia menekankan bahwa Sekoper bertujuan membangun kesadaran kritis perempuan agar berani menyampaikan kepentingan dan aspirasinya.
“Melalui Sekoper, kami ingin perempuan desa punya keberanian untuk ikut Musdes, ikut membahas arah pembangunan. Desa yang baik adalah desa yang suaranya tidak didominasi oleh satu kelompok saja,” tambahnya.
Dorongan untuk Perempuan Kepala Keluarga dan Pemberdayaan Ekonomi
Selain soal kepemimpinan, sesi pelatihan juga menyinggung tentang pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan. Menurut Niken, banyak perempuan kepala keluarga yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi belum mendapat akses pelatihan dan jaringan pendukung.
“Kami ingin perempuan, terutama ibu-ibu kepala keluarga, punya penghasilan yang stabil. Bukan sekadar usaha kecil, tetapi usaha yang mereka pahami, mereka rancang, dan mereka kembangkan sendiri. Kemandirian ekonomi adalah pintu utama agar perempuan bisa keluar dari kerentanan,” ujarnya.
Pemerintah Daerah Siap Mendukung
Eko Supriyanto dari Dinas PPKB PPPA menegaskan dukungan pemerintah terhadap program pemberdayaan berbasis desa ini.
“Kami di pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan kasus, tetapi juga pencegahan. Pelatihan seperti ini sangat efektif karena menyentuh akar masalah. Perempuan yang berdaya akan membangun keluarga yang lebih kuat,” jelasnya.
Nova, Plt Kepala UPTD PPA, menambahkan, pihaknya siap memperkuat layanan perlindungan ketika perempuan mulai berani melapor dan menyampaikan keluhan.
“Ketika perempuan sudah sadar haknya, biasanya mereka mulai berani mencari pertolongan. Di situ kami hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian,” katanya.
Sementara itu diwawancarai terpisah, Octadella Bilytha Permatasari, ketua Puspa Arimbi Jombang menyampaikan harapan besar terhadap program ini.
“Saya bangga melihat perempuan desa mulai membuka ruang diskusi dan belajar bersama. Mereka tidak hanya mencari pengetahuan, tetapi membangun keberanian. Dan keberanian itu sangat penting agar perempuan bisa terlibat dalam pembangunan desa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemberdayaan perempuan bukan pekerjaan instan. Butuh proses, butuh pendampingan, dan butuh keberlanjutan.
“Saya percaya program seperti ini menjadi motor perubahan yang nyata jika dilakukan terus-menerus,” tegasnya.
Membangun Desa dengan Perempuan sebagai Subjek
Dengan beragam materi, diskusi, dan pendampingan yang disampaikan, Puspa Goes to Desa diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak perempuan yang memiliki kesadaran kritis, keberanian, dan kemampuan untuk berperan aktif dalam pembangunan desa.
Program ini menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang, pendidikan, dan dukungan yang tepat, mereka bukan hanya mampu berprestasi, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan di lingkungannya. (Fit)












Komentar untuk post