JOMBANGTV – Suasana salah satu ruang di lantai tiga Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy”ari, Tebuireng mendadak hangat oleh obrolan sejarah, Sabtu, 28 Februari 2026, ada akademisi, santri, pegiat literasi, sampai warga umum, semuanya datang dengan satu rasa penasaran yang sama: benarkah Jombang adalah titik awal kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno?
Diskusi ini bukan sekadar bedah buku biasa. Ada semacam semangat “membongkar ulang lembaran lama” yang terasa di udara. Forum ini jadi ruang akademik untuk mendorong rekonstruksi sejarah, upaya serius menempatkan Jombang dalam peta besar historiografi nasional.
Dua penulis hadir membawa riset mereka. Gus Binhad Nurrohmat lewat bukunya Titik Nol Soekarno 1902, dan Ach. Faisol dengan Menemukan Bung Karno di Jombang. Keduanya sama-sama menelusuri jejak awal kehidupan Bung Karno, tapi dengan pendekatan dan penekanan yang khas.

Gus Binhad memaparkan temuannya dengan tenang namun penuh keyakinan. Berdasarkan riset arsip yang ia telusuri, ada indikasi kuat bahwa Soekarno lahir di wilayah Ploso, tepatnya di Gang Buntu, Desa Rejoagung, pada 6 Juni 1902.
“Ini bukan sekadar asumsi pribadi,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa kesimpulan itu dibangun dari dokumen-dokumen yang bisa diuji secara akademis—mulai dari catatan administrasi pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mencantumkan tanggal lahir Soekarno, hingga catatan keluarga yang ditulis langsung oleh sang ayah, Raden Soekarni.
Menariknya lagi, Raden Soekarni saat itu tercatat sedang bertugas sebagai mantri guru di sekolah Ongko Loro di wilayah Ploso. Ada dokumen penugasan pemerintah kolonial Belanda tertanggal Desember 1901 yang menguatkan posisi tersebut. Dari situ, benang merah mulai terlihat—bahwa kelahiran Soekarno di Ploso bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan punya pijakan arsip yang jelas.
Namun diskusi tidak berhenti pada tumpukan dokumen. Gus Binhad juga menyinggung pentingnya sejarah lisan. Ingatan kolektif warga Ploso tentang keberadaan keluarga Soekarno, menurutnya, masih terjaga hingga hari ini. Cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi itu menjadi pelengkap yang memberi konteks pada arsip tertulis.
Di sisi lain, Ach. Faisol mengajak peserta melihat persoalan ini lebih luas. Menurutnya, menelusuri jejak Soekarno di Jombang bukan hanya soal di mana ia lahir secara administratif, tetapi juga bagaimana lingkungan sosial dan budaya setempat ikut membentuk perjalanan awal tokoh besar itu.
“Sejarah itu tidak cuma ada di arsip resmi,” ujarnya. “Ia juga hidup dalam cerita, pengalaman, dan memori masyarakat.”
Sore itu, diskusi tidak menghasilkan palu keputusan final. Tapi justru di situlah letak menariknya. Ruangan museum menjadi saksi bahwa sejarah bukan sesuatu yang beku, ia bisa diteliti ulang, diperdebatkan, dan diperkaya. Dan Jombang, setidaknya sore itu, terasa semakin percaya diri menempatkan dirinya dalam narasi besar perjalanan bangsa.












Komentar untuk post