JOMBANG.TV — TP PKK Kabupaten Jombang bersama Duta Genre, WCC, Aliansi Inklusi Jombang, dan berbagai organisasi masyarakat memperingati World AIDS Day dengan kampanye edukatif yang berfokus pada peningkatan pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS serta pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, Minggu (21/12/2025).
Kegiatan ini menegaskan bahwa masih banyak kesalahpahaman di masyarakat terkait cara penularan HIV. Akibatnya, ODHA sering dijauhi, dihakimi, bahkan dikucilkan dari lingkungan sosial, meski tidak melakukan tindakan yang membahayakan orang lain.
Koordinator Aliansi Inklusi Jombang Fuad Abdillah menjelaskan bahwa HIV hanya menular melalui cairan tubuh tertentu dan tidak dapat menular lewat sentuhan fisik biasa, bersalaman, atau beraktivitas bersama.
Ia menekankan bahwa edukasi yang benar menjadi kunci untuk memutus mata rantai stigma yang selama ini melekat pada ODHA.
“Ketika seorang anak harus dijauhi di sekolah karena status HIV, itu bukan persoalan medis, tetapi kegagalan kita dalam memberikan edukasi dan empati,” tegasnya.
Dalam kampanye tersebut, masyarakat diajak untuk membangun sikap inklusif dengan tetap menjalin interaksi sosial yang wajar, memberikan dukungan moral, serta menjadi pendengar yang baik bagi ODHA.
“Lingkungan yang aman dan suportif dinilai sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental dan keberlangsungan pengobatan ODHA,” katanya.
Perwakilan Generasi Muda Jombang, Dinar Mahira Billytha Pradasari menilai bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang benar dan menumbuhkan empati di lingkungan sekitarnya.
“Keberanian untuk peduli dan tidak menghakimi adalah bentuk nyata dari kemanusiaan,” katanya.
Ketua TP PKK Kabupaten Jombang Yuliati Nugrahani, dalam wawancara terpisah, menegaskan bahwa edukasi HIV/AIDS harus dimulai dari keluarga.
Ia menyebut ibu sebagai garda terdepan dalam membangun pemahaman, kasih sayang, dan penerimaan terhadap sesama.
Yuliati juga menyoroti masih adanya kasus diskriminasi terhadap anak dengan HIV/AIDS di lingkungan pendidikan.
“Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi semua anak tanpa kecuali, termasuk anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu,” katanya.
Kolaborasi lintas organisasi ini diharapkan mampu memperkuat literasi masyarakat tentang HIV/AIDS sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa melawan HIV/AIDS bukan hanya soal medis, tetapi juga tentang keberanian untuk memanusiakan manusia. (Fit)













Komentar untuk post