JOMBANG.TV — Sore itu, Selasa (23/12/2025), sekitar pukul empat, cahaya matahari senja merayap masuk melalui jendela Balai Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang. Hangatnya tak menyilaukan, cukup untuk menerangi sebuah ruang yang pelan-pelan dipenuhi harapan.
Lantai balai desa telah digelar karpet. Di atasnya, anak-anak balita duduk berjejer. Ada yang bersandar nyaman di pangkuan, ada yang setengah rebah sambil menatap sekeliling. Semua ditemani ibu mereka. Suasananya riuh kecil, hangat, hidup, dan terasa akrab.
Beberapa balita tertawa tanpa sebab yang jelas. Yang lain sibuk meraih jemari sang ibu, memainkannya seolah itulah mainan paling aman di dunia.
Ada yang menepuk-nepuk karpet, ada pula yang menengadah, memperhatikan kipas angin berputar pelan di langit-langit. Dari sudut ruangan, aroma sop hangat mulai tercium. Ini sederhana, namun menenangkan.
Inilah sore di Desa Kepatihan, ketika pencegahan stunting tidak hadir sebagai istilah medis yang kaku, melainkan sebagai pengalaman yang dirasakan bersama. Tanpa jarak. Tanpa formalitas berlebih.
Di tengah suasana itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, menyapa para ibu dan anak-anak dengan senyum lembut.
Baginya, momen seperti ini adalah bukti bahwa perhatian pada gizi dan tumbuh kembang anak selalu berangkat dari ruang paling dekat, yaitu keluarga.
Sebagai simbol kebersamaan, SOP sehat anti-stunting dibagikan dan dimakan bersama. Isinya sederhana. Bahan-bahan yang akrab bagi lidah anak-anak, mulai dari sosis, makaroni, wortel, dan ayam. Semua dipilih dengan kesadaran gizi.
Sendok-sendok kecil bergerak pelan. Ada balita yang disuapi perlahan, ada pula yang masih ingin bermain sejenak sebelum menelan. Para ibu bersabar, sembari mengusap pipi anaknya, menahan tawa kecil, menikmati tingkah lugu yang tak pernah dibuat-buat.
Sop itu merupakan inisiatif Kepala Desa Kepatihan, Erwin Pribadi, yang mendapat apresiasi penuh dari Yuliati.
“Semoga bapak kades selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki,” ucapnya singkat, namun bermakna.
Di desa ini, kepemimpinan tidak berhenti pada administrasi, ia menjelma kepedulian yang bisa dirasakan anak-anak.
Dalam sambutannya, Yuliati memuji inisiatif kepala desa dan seluruh masyarakat Desa Kepatihan.
“Langkah dan inovasi seperti yang telah dilakukan di Desa Kepatihan ini bukan hanya memberi nutrisi pada balita, tetapi juga memberi harapan bagi keluarga lain di Kabupaten Jombang,” tuturnya.
Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi contoh yang diadopsi desa-desa lain.
“Saya berharap apa yang telah dicapai di sini bisa ditiru, sehingga cita-cita Jombang Zero Stunting bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang dapat kita banggakan bersama,” lanjutnya.
Yuliati juga menekankan pentingnya peran aktif kader PKK, posyandu, dan para ibu sebagai garda terdepan edukasi gizi dan perubahan perilaku sehat keluarga. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi mereka dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Jombang.
Sementara itu, Erwin Pribadi berbagi refleksi tentang perjalanan desanya. Baginya, komitmen desa dalam mengalokasikan sumber daya, merancang program gizi seimbang, dan memastikan dukungan penuh warga serta kader adalah kunci keberhasilan Desa Kepatihan menjadi wilayah zero stunting.
Dengan pendekatan menyeluruh dan keterlibatan semua pihak, mulai dari posyandu hingga pemangku kebijakan desa serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dapat dibangun secara konsisten.
“Jika dalam pemeriksaan posyandu ada balita yang mulai masuk garis kuning, kami minta kader segera melaporkan ke saya atau ke Ketua TP PKK Desa. Supaya langsung bisa ditangani. Asupan gizi dan kebutuhannya kami penuhi,” ujarnya.
Desa Kepatihan telah dua tahun berturut-turut mencatat zero stunting dan zero gizi buruk. Capaian ini lahir dari kerja bersama, PKK desa, kader posyandu, perangkat desa, dan para ibu yang setia mendampingi.
Program “3 Hari Tanpa Belanja” yang dulu diperuntukkan bagi warga prasejahtera pun dialihkan sepenuhnya untuk pencegahan stunting. Sebuah keputusan sederhana namun berdampak nyata.
Di Balai Desa Kepatihan, stunting dicegah dengan semua kehadiran. Ada ibu yang menemani, desa yang peduli, dan semangkuk Sop hangat yang dimakan bersama di senja hari, ketika masa depan sedang tumbuh, pelan-pelan.
Selain sop sehat anti stunting, kegiatan sore itu juga dirangkai dengan pembagian paket sembako untuk para ibu.
Satu per satu, mereka menerima bingkisan sembako. Paket bahan pangan dasar yang akrab dengan dapur keluarga.
Tak besar jumlahnya, namun cukup untuk memastikan kebutuhan gizi keluarga tetap terjaga beberapa hari ke depan.
Bagi sebagian ibu, sembako itu menjadi penguat. Bahwa upaya menjaga gizi anak tidak dibiarkan berjalan sendiri.
Karpet balai desa menjadi saksi, ada anak-anak yang kenyang, ibu-ibu yang tersenyum, dan sebuah desa yang percaya bahwa masa depan sehat dimulai dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati.
Sore itu ditutup dengan ucapan hangat Yuliati. “Selamat Hari Ibu buat panjenengan semua. Pencegahan stunting selalu dimulai dari rumah. Ibu adalah tokoh utamanya. Ketelatenan, kasih sayang, dan kesadaran gizi yang ibu tanamkan hari ini akan menentukan kualitas generasi Jombang di masa depan.” (Fit)











Komentar untuk post