Pagi itu, Senin (26/1/2026), langkah rombongan TP PKK Kabupaten Jombang bergerak menyusuri desa. Dari Ngoro hingga Kesamben, pintu-pintu rumah lansia anggota Kowaveri diketuk satu per satu. Bukan sekadar untuk berkunjung, tetapi untuk menyampaikan perhatian yang nyata.
Di Desa Ngoro, rumah sederhana milik Ibu Kasmi menjadi persinggahan pertama. Senyum pelan menyambut, disusul obrolan singkat tentang keseharian. Tak banyak kata, namun raut wajahnya berbicara: ia tidak sendiri.
Ibu Kasmi yang sudah berumur 1 abad kini dalam kondisi yang tidak bisa beraktivitas sendiri. Sehingga kedatangan Yuliati Nugrahani dan pengurus PKK sangat menguatkan dirinya.
Perjalanan berlanjut ke Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben. Di sana, Ibu Tuminah menerima paket bantuan sambil bercerita tentang hari-hari yang kini lebih banyak dihabiskan di rumah.
Sementara di Desa Watudakon, Ibu Sotah menggenggam tangan para tamu dengan erat, sebuah gestur kecil yang menyimpan rasa haru.
Ketua TP PKK Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, bersama Ketua I TP PKK Jombang, Ning Ema Erfina Salmanudin Yazid serta Ketua III TP PKK Jombang, Lilik Agus Purnomo dan pengurus PKK memilih turun langsung menyapa para lansia.
Bagi Yuliati Nugrahani Warsubi, perempuan-perempuan sepuh ini bukan sekadar penerima bantuan, melainkan sosok yang patut dihormati atas perjalanan hidup dan pengabdiannya.
“Para lansia ini telah melalui masa-masa panjang dalam hidupnya. Tugas kita hari ini adalah memastikan mereka tetap merasa dihargai, diperhatikan, dan tidak ditinggalkan,” ujar Yuliati Nugrahani di sela kunjungan.
Perhatian tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan konkret. Paket lansia disalurkan berisi susu, pampers, perlak, dan biskuit gabin. Perlengkapan kebersihan seperti sapu dan kebutuhan pendukung lainnya turut melengkapi, termasuk bantuan sandang berupa daster agar para lansia tetap nyaman menjalani aktivitas sehari-hari.
Dukungan lintas perangkat daerah juga menguatkan kegiatan ini. BPBD Kabupaten Jombang menyalurkan alat-alat pendukung yang dibutuhkan lansia, sementara Dinas Sosial Kabupaten Jombang menambahkan bantuan sembako dan selimut.
Menurut Yuliati, kepedulian terhadap lansia tidak boleh berhenti pada satu momentum. “Yang terpenting bukan jumlah bantuannya, tetapi kesinambungan perhatiannya. Ibu-ibu ini sudah sepuh. Mereka perlu merasa aman dan dilibatkan, bukan sekadar dikunjungi,” tegasnya.
Agenda yang diawali dari Pendopo Swagata itu berakhir di ruang-ruang kecil yang penuh cerita: kursi kayu tua, meja sederhana, dan percakapan pelan yang hangat. Di tiga rumah tersebut, satu pesan mengendap kuat, kepedulian sejati selalu dimulai dari kesediaan untuk mendekat dan mendengar. (Fit)











Komentar untuk post