JOMBANG.TV – Maraknya aksi teror dan intimidasi oleh oknum yang mengaku sebagai jurnalis di lingkungan pendidikan memicu keprihatinan serius. Menanggapi hal tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang menggelar pelatihan khusus bagi staf Humas SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Kabupaten Jombang, pada Jumat (13/2/2026).
Bertajuk “PWI Jombang Goes to School: Safari Edukasi Jurnalistik”, kegiatan yang berlangsung di Aula SMKN 3 Jombang ini bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada lembaga pendidikan sekaligus menjaga marwah profesi wartawan dari praktik pemerasan.
Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan respon atas banyaknya keluhan kepala sekolah yang merasa tertekan oleh oknum “wartawan bodrex”.
“Tujuan oknum ini biasanya bukan untuk melakukan peliputan, melainkan mencari keuntungan pribadi dengan cara menekan. Kami ingin mengedukasi sekolah agar tahu cara menghadapi mereka secara elegan dan sesuai aturan,” jelas Mufid.
Dalam sesi materi, Redaktur Beritajatim.com, Yusuf Wibisono, membedakan langkah hukum yang bisa diambil sekolah. Seperti, dalam segi sengketa pemberitaan, jika media terverifikasi Dewan Pers, penyelesaian dilakukan melalui Hak Jawab atau melapor ke Dewan Pers.
“Jika oknum tidak terverifikasi dan melakukan pemerasan atau ancaman, sekolah disarankan melapor ke aparat penegak hukum (APH),” jelasnya.
Sedangkan, dari segi konten media sosial, jika ada unggahan pribadi yang merugikan bisa dijerat dengan UU ITE, karena media sosial bukan otomatis merupakan produk jurnalistik.
Selain aspek hukum, pelatihan ini mendorong sekolah untuk lebih proaktif dalam mengelola informasi internal.
Saiful Mualimin dari JTV menekankan pentingnya Revitalisasi Media Sekolah. Menurutnya, memiliki kanal informasi resmi yang kredibel akan memudahkan humas melakukan klarifikasi jika diterpa isu miring.
Senada dengan hal itu, jurnalis Kompas.com, Muhammad Syafi’, menyoroti sisi kreatif melalui School Branding.
“Sekolah yang transparan dan aktif mengomunikasikan prestasinya di media sosial akan memiliki reputasi yang kuat. Ruang bagi oknum untuk melakukan intimidasi pun akan tertutup dengan sendirinya karena publik sudah memiliki referensi informasi yang jelas,” paparnya.
Inisiatif ini mendapat apresiasi penuh dari Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Jombang. Kasubag TU Cabdindik, Ulil Muamar, meminta para humas dan kepala sekolah untuk tidak lagi merasa takut atau gegabah saat menghadapi tekanan oknum.
“Kami mengimbau sekolah untuk selalu berkoordinasi dengan Cabdindik. Dengan pemahaman yang didapat dari forum ini, kami berharap rekan-rekan humas lebih percaya diri dan memahami prosedur yang benar dalam menghadapi persoalan di lapangan,” pungkasnya.(tam)










Komentar untuk post