JOMBANG.TV – Keluhan demi keluhan tentang jalan nasional berlubang di Kabupaten Jombang bukan sekadar deretan aduan di media sosial atau laporan warga. Bagi Bupati Jombang, H. Warsubi, itu adalah suara yang harus diperjuangkan.
Beberapa bulan terakhir, ia tak hanya menerima laporan, tetapi aktif mengetuk pintu pemerintah pusat. Audiensi demi audiensi dilakukan. Bahkan, pada 11 Februari lalu, ia kembali mendatangi kementerian untuk memastikan usulan perbaikan jalan nasional di Jombang tidak berhenti sebagai wacana. Hari ini, hasil dari ikhtiar itu mulai terlihat.
Dari Ruang Audiensi ke Lapangan
Minggu (22/2), Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, turun langsung meninjau kondisi jalan rusak di sisi timur Flyover Jombang. Ia didampingi Kasatker BPJN Jawa Timur serta Bupati Warsubi.
Peninjauan dilakukan di sejumlah titik yang selama ini dikeluhkan pengendara karena kerap memicu kecelakaan. Rombongan berhenti, meninjau langsung kondisi aspal, serta mencermati tingkat kerusakan di lapangan.
Emil mengatakan, kerusakan pada ruas tersebut tergolong paling parah dibandingkan titik lain di Jawa Timur. Intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir turut mempercepat degradasi aspal. Dalam sehari saja, tercatat hingga 60 lubang yang harus ditambal di satu segmen.
Sementara itu, bagi Warsubi kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut konkret dari komunikasi panjang yang telah ia bangun bersama pemerintah pusat.
“Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian PU, bahkan langsung ke Pak Menteri. Jalan ini memang sudah waktunya diperbaiki secara menyeluruh, tidak bisa hanya tambal sulam. Terima kasih juga kepada Bapak Wakil Gubernur karena sudah mau merelakan waktunya di hari Minggu untuk memberikan perhatian pada masyarakat Jombang,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Tambal Sulam
Ruas nasional dari Lingkar Mojoagung hingga Flyover Jombang akan dioverlay sepanjang empat kilometer, baik sisi kiri maupun kanan. Langkah ini bukan lagi penanganan sementara, melainkan perbaikan menyeluruh untuk meningkatkan daya tahan dan kualitas jalan.
Overlay dijadwalkan mulai dalam dua minggu ke depan. Sambil menunggu proses tersebut, penambalan tetap dilakukan dengan menambah jumlah tim dari lima menjadi sepuluh tim agar percepatan penanganan dapat tercapai.
Sementara itu, Kasatker BPJN Jawa Timur Ida Bagus Made Artamana menyebut terdapat 118 lubang di ruas Ringroad Mojoagung hingga Jombang. Saat ini lima tim dikerahkan, namun kapasitasnya masih terbatas.
“Lima tim hanya mampu sekitar lima puluh lubang per hari. Besok kami tambah jadi sepuluh tim. Harapan kami tiga hari ke depan, jika cuaca bersahabat, sehingga seluruh lubang dari Lingkar Mojoagung sampai Lingkar Jombang bisa tertutup,” jelasnya.
Bagi masyarakat, mungkin yang terlihat hanyalah alat berat dan hamparan aspal panas. Namun di balik itu, terdapat proses panjang advokasi, koordinasi, serta komunikasi lintas pemerintahan yang terus dikawal.
Sebagai kepala daerah, Warsubi menyadari bahwa jalan nasional bukan kewenangan langsung Pemerintah Kabupaten. Namun baginya, batas kewenangan tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap pasif.
“Kalau itu menyangkut keselamatan warga Jombang, tetap harus kita perjuangkan,” tegasnya.
Mengawal Sampai Tuntas
Selain ruas Lingkar Mojoagung–Flyover, perbaikan juga akan menyasar Jalan Gatot Subroto, depan stasiun hingga Cangkringrandu, serta Jalan Brigjen Kretarto dari Sambongdukuh sampai Kebon Ratu.
Langkah tersebut menegaskan bahwa kepedulian bukan sekadar respons atas viralnya keluhan, melainkan wujud komitmen yang dijalankan secara konsisten.
Bagi Warsubi, jalan bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi urat nadi perekonomian, jalur anak-anak menuju sekolah, akses pedagang, hingga lintasan utama para pekerja setiap hari. Setiap lubang berarti potensi risiko yang tidak bisa dianggap sepele.
Kini, setelah audiensi terakhir pada 11 Februari lalu, proses yang diperjuangkan mulai menunjukkan hasil nyata. Pemerintah provinsi turun langsung, kementerian menambah tim, dan proyek overlay disiapkan.
Di tengah hujan deras yang beberapa hari terakhir mengguyur Jombang, satu hal yang tetap menyala adalah komitmen untuk mengawal keselamatan warganya.
Karena bagi seorang kepala daerah, kepedulian bukan diukur dari seberapa sering ia berbicara, melainkan seberapa jauh ia melangkah untuk memperjuangkan rakyatnya. (Fit)











Komentar untuk post