JOMBANG.TV – Tepuk tangan bergema di Gedung Balai Kartini, Rabu (25/2/2026). Di panggung nasional itu, satu nama disebut dengan bangga: Kabupaten Jombang.
Di hadapan ratusan kepala daerah se-Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq menyerahkan langsung Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Tahun 2026 kepada Bupati Jombang, H. Warsubi.
Saat nama Jombang dipanggil, Abah Warsubi melangkah ke depan dengan wajah tenang, namun tak bisa menyembunyikan rasa bangga.
Penghargaan itu bukan sekadar seremoni di atas panggung megah Jakarta.
Di balik angka 65,47, Ada Kerja-kerja Masyarakat Jombang
Di balik angka 65,47 yang tertera pada Sertifikat Menuju Kabupaten Bersih, ada kerja panjang yang berlangsung jauh dari sorotan kamera, di dapur-dapur rumah warga, di sudut-sudut desa, hingga di Tempat Pemrosesan Akhir.
Kabupaten Jombang, dengan jumlah penduduk lebih dari 1,3 juta jiwa, setiap harinya menghadapi produksi sampah yang diperkirakan mencapai 180 hingga 220 ton.
Ratusan ton itu tidak datang sekaligus, melainkan mengalir perlahan dari aktivitas rumah tangga, pasar, pertokoan, hingga perkantoran. Sebagian besar berupa sampah organik, sisanya plastik dan anorganik lain yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi persoalan serius.
Di tengah tantangan itu, sistem mulai dibangun dan diperkuat. Edukasi pemilahan digencarkan, bank-bank sampah digerakkan, TPS3R dihidupkan, dan armada pengangkutan diperbaiki.
Bukan pekerjaan instan. Butuh konsistensi kebijakan, keberanian mengalokasikan anggaran, dan yang terpenting, yaitu perubahan perilaku masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi konkret, Pemerintah Kabupaten Jombang juga menerima tambahan tiga unit motor roda tiga operasional persampahan yang secara simbolis diserahkan oleh Diaz Faisal Malik Hendropriyono.
Kendaraan sederhana itu mungkin terlihat kecil di panggung nasional, tetapi di gang-gang sempit desa, kendaraan tersebut akan menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan penumpukan sampah.
Dalam suasana penuh haru, Abah Warsubi menegaskan bahwa capaian ini merupakan milik masyarakat Jombang.
“Penghargaan ini milik masyarakat Jombang. Dari ibu-ibu rumah tangga dan kader PKK yang memilah sampah di dapur, kader lingkungan yang tak lelah mengedukasi, perangkat desa yang membangun sistem, sampai petugas kebersihan yang bekerja sejak dini hari. Semua punya peran,” ungkapnya.
Ia menyadari, persoalan sampah bukan hanya soal memindahkan dari satu titik ke titik lain. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kesadaran. Mengurangi dari sumbernya. Membiasakan disiplin memilah. Menjadikan pengelolaan sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban.
Masuk dalam 16 besar terbaik nasional menjadi penanda bahwa arah kebijakan yang ditempuh berada di jalur yang tepat. Namun bagi Warsubi, ini bukan puncak.
“Ini bukan garis akhir. Ini pijakan. Kita ingin Jombang benar-benar menjadi kabupaten yang bersih dan sehat,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus pembangunan fisik, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan juga diukur dari kualitas lingkungan hidup.
Bahwa ratusan ton sampah yang dihasilkan setiap hari bukan semata beban, tetapi tantangan yang bisa diubah menjadi nilai jika dikelola dengan benar.
Dari panggung Jakarta hingga sudut-sudut desa, satu pesan mengalir, bahwa kebersihan bukan sekadar program pemerintah melainkan wujud kerja sama kolektif sekaligus tanggung jawab bersama. (Fit)












Komentar untuk post