JOMBANG.TV – Semangat kepedulian lingkungan mewarnai momentum Iduladha 1446 H di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Jombang. Institusi pendidikan Islam legendaris ini menyelenggarakan pemotongan puluhan hewan kurban yang diperuntukkan bagi warga sekitar serta para santri, Rabu 27/05/26.
Total hewan yang disembelih pada tahun ini mencapai 35 ekor, mencakup komoditas sapi dan kambing. Sejak pagi, pelataran kompleks pesantren sudah dipadati oleh masyarakat yang antusias melihat jalannya prosesi kurban.
Salah satu terobosan penting dalam perayaan tahun ini adalah komitmen panitia untuk meninggalkan kantong plastik. Sebagai gantinya, anyaman bambu berupa besek dipilih untuk membungkus daging. Kebijakan ini dinilai efektif untuk menekan sampah plastik sekaligus menjaga sirkulasi udara agar kualitas daging tetap higienis.
Pembagian daging berjalan kondusif berkat pemisahan jalur antrean bagi warga pria dan wanita. Seluruh penerima manfaat yang membawa kupon mengantre secara teratur.
”Sangat bersyukur, bantuan dari pihak Tebuireng ini selalu ada setiap tahunnya. Tentu ini berkah yang sangat berarti bagi dapur kami,” ungkap Masyinah, warga berusia 60 tahun yang turut mengantre daging untuk dimasak bersama keluarganya.
Ketua panitia kurban Tebuireng, K.H. Lukman Hakim, menerangkan bahwa logistik kurban yang dikelola pihak pondok berasal dari berbagai elemen masyarakat, termasuk jajaran pejabat tinggi negara.
Diantaranya Presiden RI Prabowo Subianto menyumbangkan satu ekor sapi jumbo berbobot hampir mencapai 1 ton, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dua ekor sapi dari Pengasuh Pesantren, kontribusi dari PWNU Jatim, serta titipan dari para orang tua/wali santri.
”Amanah yang begitu besar ini merupakan kebahagiaan kolektif. Pendistribusiannya kami pastikan menyasar masyarakat luas di lingkaran luar Tebuireng, bukan sekadar untuk kalangan domestik pondok,” papar K.H. Lukman.
Di sisi lain, agenda tahunan ini dimanfaatkan manajemen pesantren sebagai sarana membentuk karakter (character building) bagi anak didik mereka. Melibatkan santri dalam kepanitiaan bertujuan mengasah empati kemanusiaan mereka.
”Kami mendidik para santri agar memiliki mentalitas sebagai pemberi, bukan penadah. Ini praktik riil mengenai esensi berbagi dan solidaritas,” tambahnya.
Secara keseluruhan, kuota daging yang disiapkan melalui wadah besek ini diproyeksikan menembus angka 2.000 paket. Di luar jatah warga, pasokan daging juga disalurkan ke dapur-dapur asrama santri.
Menariknya, para santri akan mengolah jatah tersebut melalui tradisi ikonik bertajuk “Sate Berjamaah”. Kegiatan bakar sate massal di koridor kamar asrama ini dipercaya ampuh mempererat keakraban antar-santri dari berbagai daerah.
Seluruh rangkaian operasional, mulai dari jagal hingga distribusi, ditargetkan selesai dalam kurun waktu tiga hari.(tam)








Komentar untuk post