JOMBANG.TV – Ratusan massa buruh yang tergabung dalam Garda Metal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) memblokade kawasan depan PT Indomarco Prismatama Cabang Jombang di Jalan Peterongan, Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Selasa (26/5/2026).
Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh kekecewaan pekerja terkait dugaan pelanggaran hak normatif, salah satunya mandeknya pembayaran upah lembur pada hari libur nasional.
Massa aksi datang membawa atribut lengkap, mulai dari bendera organisasi, spanduk tuntutan, hingga pengeras suara untuk menyuarakan aspirasi sejak pagi hari.
Gerbang utama perusahaan ritel raksasa tersebut tampak ditutup rapat dan mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
Koordinator Lapangan Aksi, Hasan Bisri, mengungkapkan bahwa aksi turun ke jalan ini merupakan bagian dari gerakan serentak buruh di Jawa Timur. Namun, dari berbagai wilayah, hanya manajemen PT Indomarco Cabang Jombang yang dinilai menutup diri dan tidak menghasilkan titik temu saat audiensi.
”Di daerah lain persoalan ini bisa diselesaikan lewat meja perundingan. Sayangnya di Jombang justru buntu, padahal mediasi bersama Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) sudah berulang kali dilakukan,” ungkap Hasan di lokasi demonstrasi.
Poin utama yang digugat para buruh antara lain: upah lembur libur Nasional. Pekerja diklaim tetap diwajibkan masuk pada hari libur nasional, namun kompensasi yang dibayarkan setara dengan hari kerja biasa.
Kedua, massa mendesak manajemen menghentikan segala bentuk intimidasi dan upaya pelemahan serikat pekerja. Mereka juga memprotes adanya dugaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dikemas dalam format pengunduran diri sukarela.
Terakhir, para sopir distribusi mengeluhkan target pengiriman yang terlalu ketat dan sistem ganti rugi sepihak jika terjadi kendala di jalan raya.
Unjuk rasa ini tidak hanya diikuti oleh pekerja lokal Jombang, melainkan mendapat solidaritas dari sekitar 170 buruh lintas daerah, seperti Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Jember.
Sebagai bentuk keseriusan, massa bahkan telah mendirikan tenda perjuangan di depan gerbang perusahaan. Mereka menegaskan tidak akan bergeser dan siap bertahan selama 24 jam penuh jika manajemen tetap bersikap abai.
”Kami sudah mengantisipasi hal ini dengan membawa tenda. Jika hari ini ada kejelasan, kami bubar. Namun jika perusahaan tetap bersikeras, kami akan menginap dan melanjutkan aksi esok hari,” pungkas Hasan.
Hingga Selasa siang, proses negosiasi antara perwakilan buruh dan manajemen PT Indomarco Prismatama masih berjalan alot di dalam area pabrik dengan dijaga ketat oleh pihak kepolisian.
Sementara itu, pihak manajemen perusahaan belum memberikan pernyataan resmi terkait tuntutan massa karena akses konfirmasi bagi awak media masih tertahan di luar pagar pembatas.(tam)










Komentar untuk post