JOMBANG.TV – Pemerintah Kabupaten Jombang menerima audiensi pelaporan hasil kerja Tim Pemutakhiran Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).
Dalam forum tersebut, salah satu anggota tim, Imam Ghozali memaparkan bahwa PPKD tidak lagi memaknai kebudayaan secara sempit sebagai seni pertunjukan semata, melainkan sebagai keseluruhan sistem hidup masyarakat. Mulai dari bahasa, manuskrip, sastra lisan, pengetahuan tradisional, teknologi sederhana, sistem pengobatan, rempah-rempah, hingga kuliner lokal.
Imam Ghozali menjelaskan, PPKD disusun dalam beberapa bab. Bab awal memotret kondisi eksisting kebudayaan Jombang sekaligus menginventarisasi pusaka budaya yang selama ini luput dari perhatian publik.
“Selama ini kebudayaan sering dipersempit hanya pada seni. Padahal kebudayaan itu dari A sampai Z. Ini langkah perlindungan agar pusaka budaya dikenal dan diwariskan kepada anak-anak kita,” ujar pria yang merupakan penulis sekaligus pelaku seni budaya Jombang ini.
Ia mencontohkan, berbagai sistem agraria tradisional yang dahulu dikenal masyarakat Jombang, seperti tanah ganjaran, tanah kuburan, hingga tanah titi soro, yang kini mulai hilang dari ingatan kolektif.
Padahal, menurutnya, pusaka budaya tersebut memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan bangsa.
Sorotan khusus juga diberikan pada kekayaan manuskrip lama yang banyak tersimpan di pondok pesantren dan di tangan tokoh-tokoh masyarakat. Manuskrip-manuskrip itu memuat pengetahuan penting, mulai dari sistem pengobatan tradisional, pemanfaatan rempah dan bumbu, hingga teknologi pangan seperti proses pembuatan tape.
“Jika pengetahuan ini diorkestrasi dan dikembangkan, dampaknya bisa luar biasa bagi masyarakat Jombang,” kata Imam.
Ia mengingatkan, ketergantungan pada sumber daya alam seperti minyak dan mineral bersifat terbatas dan bisa punah. Sebaliknya, pusaka budaya akan terus hidup jika dilestarikan. Imam mencontohkan Korea dan Jepang yang berhasil menjadikan khazanah budaya sebagai kekuatan ekonomi dan ideologi melalui strategi kebudayaan yang terencana.
Fenomena globalisasi budaya pun menjadi perhatian serius. Anak-anak Indonesia, termasuk di Jombang, kini lebih akrab dengan jajanan dan budaya asing dibandingkan makanan tradisional.
“Itu bukan kebetulan. Perubahan mindset itu dipersiapkan lama melalui ekspresi seni, termasuk drama Korea. Ideologi mereka masuk, dan devisa kita justru mengalir ke luar,” tegasnya.
Di bagian akhir PPKD, tim menyusun rekomendasi pelestarian pusaka budaya melalui empat pilar utama: perlindungan, pengembangan, pembinaan, dan pemanfaatan. Untuk manuskrip, langkah mendesak yang diusulkan adalah penyusunan katalog naskah kuno.
Imam mengungkapkan, selama lebih dari 20 tahun pihaknya bergerilya menyelamatkan manuskrip namun karena terkendala biaya, banyak yang kemudian rusak dimakan rayap.
“Di Jawa Barat, katalog manuskrip sudah dikemas dan rapi, sehingga memudahkan riset. Jombang perlu menuju ke sana,” ujarnya.
Ia juga menyinggung keterbatasan sumber daya manusia di bidang filologi dan pernaskahan. Saat ini, dari beberapa tenaga ahli yang pernah ada, hanya satu yang masih berada di Jombang.
Karena itu, lanjut dia, tim merekomendasikan dukungan beasiswa bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan di bidang terkait, agar riset dan pemanfaatan pusaka budaya dapat berkelanjutan.
Imam pun menyatakan optimisme bahwa di bawah kepemimpinan H. Warsubi, strategi kebudayaan dapat menjadi jalan menuju masyarakat Jombang yang lebih sejahtera.
Menanggapi pemaparan tersebut, Bupati Jombang H. Warsubi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam melestarikan budaya sekaligus mengaitkannya dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Ia mengusulkan pengembangan kebun tanaman lokal yang sesuai dengan karakter Jombang, serta penguatan edukasi makanan dan kue tradisional melalui pelatihan sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler.
“Ini penting dikenalkan sejak dini kepada anak-anak sekolah,” ujarnya.
Warsubi juga menyinggung sejumlah kesenian khas Jombang, seperti jaran dor, gambus, dan wayang topeng Jati Duwur, yang menurutnya perlu terus dibina agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, strategi kebudayaan menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045.
“Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak cukup hanya membangun fisik. Kita harus membangun karakter. Dan karakter yang paling kuat lahir dari budaya daerahnya sendiri.”
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menekankan peran orang tua dan masyarakat dalam mengawasi serta membimbing generasi muda. “Sekarang semua bisa diakses lewat gawai. Mindset kita harus seperti Google, tapi hati dan pikiran harus tetap kita kelola dengan nilai budaya dan moral,” pungkasnya.
Sebagai landasan kerja, tim PPKD menjalankan tugas sesuai Surat Keputusan Bupati, yang meliputi penyusunan rencana kerja, identifikasi kondisi faktual objek pemajuan kebudayaan melalui survei dan forum terbuka, konsolidasi data, penyusunan dokumen PPKD sesuai format Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, serta pelaporan hasil kepada Bupati.
Seluruh kegiatan dilaksanakan berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan dibiayai melalui APBD Kabupaten Jombang.
Dengan pemutakhiran PPKD ini, Pemerintah Kabupaten Jombang berharap pusaka budaya daerah tidak hanya terlindungi dari kepunahan, tetapi juga mampu menjadi sumber pengetahuan, pembentukan karakter generasi muda, dan penggerak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (Fit)












Komentar untuk post