JOMBANG.TV- Siang itu, angin lembut menyapu halaman Pendopo Kabupaten Jombang. Di bawah langit yang teduh karena mendung yang bergelayut manja, 100 tukang becak, sebagian besar rambutnya telah memutih, sebagian lainnya berjalan perlahan dengan langkah rapuh.
Mereka berkumpul dengan mata berbinar. Mereka datang dari berbagai sudut kota, dari gang-gang kecil hingga pasar tradisional, membawa harapan yang sama, di hari yang mungkin menjadi titik balik dalam hidup mereka.
Di antara para sesepuh roda tiga itu, teko-teko kecil rasa syukur seolah mengepul. Hari itu, Senin (24/11/2025), mereka menerima bantuan becak listrik (betrik) dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Bukan sekadar kendaraan, melainkan “tenaga baru” yang seolah menghapus sebagian beban yang bertahun-tahun mereka pikul dengan kayuhan kaki yang kian renta.
Sebuah Simbol Penghargaan atas Kerja Keras

Becak listrik itu berdiri berjajar rapi, mengilap, seolah menunggu untuk menjadi bagian dari cerita baru pemiliknya. Setiap unit bernilai sekitar Rp22 juta, angka yang jauh dari jangkauan para pengayuh becak, namun hari itu, menjadi kenyataan yang dihadirkan oleh Presiden Prabowo bersama Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).
“Bapak-bapak yang sudah sepuh inilah yang menjadi prioritas kami,” tutur Wakil Ketua Umum GSN, Nanik S. Deyang. Suaranya terdengar hangat. “Khususnya yang sudah di atas 65 tahun. Kami ingin pekerjaan mereka lebih ringan,” tambahnya.
Bantuan ini sebagian besar berasal dari kantong pribadi Presiden Prabowo. Tak hanya di Jombang, hingga kini GSN telah menyalurkan 2.303 unit becak listrik ke berbagai daerah di Indonesia. Sebuah gerakan senyap namun nyata, yang menguatkan penghidupan para pengayuh becak lansia.
Ditekankan pula bahwa becak listrik ini bukan untuk diperjualbelikan. “Ini untuk bekerja, bukan untuk dijual,” ujar Nanik, memastikan manfaatnya tepat sasaran.
Wajah haru tampak jelas ketika Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid (Gus Salman), berdiri menyampaikan sambutan. Dengan suara mantap, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian Presiden kepada masyarakat kecil.
“Karakter kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto memiliki kesamaan dengan kepemimpinan Bupati Jombang Warsubi,” katanya. “Melindungi masyarakat, mempermudah rakyat, serta membahagiakan rakyat,” tambahnya.
Gus Salman berharap, kehadiran becak listrik itu benar-benar meringankan perjuangan para pengayuh becak sepuh. “Harapannya, para bapak dimudahkan dalam kerja dan dimudahkan dalam mendapatkan rezeki,” ungkap Gus Wabup tulus.
Suasana semakin hangat saat Wakil Ketua II DPRD Jombang, Octadella Bilytha Permatasari, turut menyampaikan pandangannya. Suaranya lembut namun tegas.
“Para pengayuh becak ini telah puluhan tahun menjaga denyut ekonomi Jombang dengan keteguhan yang luar biasa,” ujarnya. “Bantuan becak listrik ini menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras mereka. Saya berharap, ini menjadi awal baik bagi peningkatan kesejahteraan para bapak-bapak semua,” katanya.
Ketulusan Berbuah Manis
Di sela acara, para penerima bantuan tak kuasa menyembunyikan kegembiraan. Senyum mereka merekah, tulus, lepas, dan mungkin sudah lama tak muncul sepanjang itu.
Muslimin (67), yang sudah lebih dari dua dekade mengayuh becak di sekitar Yayasan Roushon Fikr Jombang, berkali-kali memandangi becak listrik barunya dengan mata berkaca-kaca.
“Kaki tidak lagi capek. Sangat membantu. Terima kasih Pak Prabowo,” ujarnya sambil mengusap bodi becaknya, seolah menyentuh masa depan yang lebih ringan.
Tak jauh dari Muslimin, seorang kakek bertubuh kecil namun berwajah cerah, Nur Aksan (73), tampak tak berhenti tersenyum. Ia berasal dari Kedung Peluk, Candi, dan biasanya mangkal di kawasan Ringin Contong.
“Senang sekali dapat becak listrik dari Pak Prabowo,” katanya pelan, namun penuh makna. “Akhirnya… tidak mancal lagi. Alhamdulillah.”
Kata “akhirnya” itu terasa panjang. Seolah menuturkan puluhan tahun perjuangan di bawah terik matahari, di tengah hujan, atau saat napas terengah karena usia tak lagi sama.
Becak ini menjadi simbol penghargaan, perhatian negara kepada warganya yang paling sederhana. Mereka yang selama ini bekerja di balik hiruk-pikuk kota, mengantar anak sekolah, mengantar belanja, atau sekadar menemani warga berkeliling.
Kini, 100 tukang becak di Jombang pulang membawa harapan baru yang menempel pada rangka becak listrik di hadapan mereka.
Sebuah babak baru, lebih ringan, lebih layak, dan tentu, lebih manusiawi. (Fit)











Komentar untuk post