JOMBANGTV – Pameran karya dua seniman visual, Sofan Kurniawan dan Luhur Wahyu Wijaya, digelar di Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jombang, Senin, 30 Maret 2026. Suasananya cukup hangat, dengan deretan karya fotografi yang mengangkat tema budaya tapi tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sofan Kurniawan, atau yang akrab disapa Sofanka, hadir dengan tema “Travesti Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Lewat fotonya, ia mengangkat sisi menarik dari kesenian ludruk, khususnya peran laki-laki yang memerankan tokoh perempuan di atas panggung. Bukan sekadar unik, tapi juga punya makna yang lebih dalam.
Dengan latar belakang fotojurnalistik, Sofan melihat tubuh bukan cuma soal fisik, tapi juga sebagai ruang cerita yang penuh pesan sosial. Dalam konteks ludruk, travesti jadi semacam simbol perlawanan—cara masyarakat menyampaikan kritik sosial sejak dulu sampai sekarang. Menurutnya, ludruk itu bukan cuma hiburan, tapi juga media untuk menyuarakan keresahan.
Di sisi lain, Luhur Wahyu Wijaya menampilkan karya berjudul “Wayang Topeng Jatiduwur Nafas Lama dalam Tubuh Baru”. Ia mencoba mengangkat kembali kesenian Wayang Topeng Jatiduwur yang sempat redup. Lewat foto-fotonya, Luhur ingin menunjukkan bahwa topeng bukan cuma benda visual, tapi juga punya nilai sejarah dan makna spiritual yang kuat bagi masyarakat.
Bagi Luhur, fotografi jadi cara untuk “menghidupkan lagi” tradisi lama agar bisa dinikmati generasi sekarang. Dalam karyanya, Wayang Topeng Jatiduwur digambarkan sebagai simbol kebangkitan budaya—bukan cuma tontonan, tapi juga cerita yang terus diwariskan.
Secara keseluruhan, pameran ini bukan hanya soal menampilkan foto yang menarik secara visual. Lebih dari itu, ada pesan tentang identitas, budaya, dan bagaimana tradisi bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman. Jadi, pengunjung bukan cuma melihat, tapi juga diajak memahami cerita di balik setiap karya.










Komentar untuk post