JOMBANG.TV — Kabar mengenai Mohamad Arifin (34), penyandang disabilitas asal Dusun Gilang, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, ramai beredar di media sosial dengan tuduhan bahwa ia ditelantarkan keluarga dan tidak memperoleh bantuan pemerintah.
Sejumlah unggahan bahkan memakai judul tendensius serta menyeret nama Bupati Jombang, H. Warsubi. Namun hasil penelusuran lapangan dan konfirmasi kepada berbagai pihak menunjukkan bahwa informasi yang viral tersebut tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Viralnya kabar ini bahkan memunculkan persepsi keliru publik, apalagi karena Arifin tinggal satu desa dengan orang nomor satu di Kabupaten Jombang. Namun ketika dicek langsung ke keluarga, perangkat desa, hingga Dinas Sosial, ditemukan rangkaian fakta yang justru membantah anggapan bahwa Arifin tidak mendapatkan perawatan.
Dirawat Adiknya Selama Berbulan-bulan, Bukan Ditelantarkan
Muhammad Mujiono (32), adik ketiga Arifin, menegaskan bahwa ia sudah merawat kakaknya dan almarhum ibunya, Syamsijah, sejak jauh sebelum kabar ini ramai.
Ia menceritakan rutinitas panjang merawat Arifin selama hampir 8–9 bulan, bahkan saat ia sendiri masih bekerja setiap hari di desa setempat.
“Jam 5 pagi saya datang, mandikan dan kasih makan mas Arifin. Siang saya pulang dari kerja untuk memberi makan lagi. Malam juga begitu. Setiap hari saya lakukan itu,” ungkapnya.
Menurutnya, seluruh keluarga dan warga sekitar mengetahui hal tersebut. Karena itu, ia merasa keberatan dengan tuduhan di media sosial yang menganggapnya menelantarkan sang kakak.
“Saya gak terima dibilang menelantarkan. Semua orang di sini tahu siapa yang merawat mas Arifin,” tegasnya.
Pindah ke Mojowarno Atas Inisiatif Kakak Tertua
Pada Agustus lalu, kakak pertama mereka yang tinggal di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, meminta izin untuk merawat Arifin. Tanpa permintaan adik-adiknya, kakak tertua membawa Arifin dan merawatnya hingga kini.
Mujiono menegaskan bahwa tidak ada konflik keluarga, namun ia menyayangkan informasi sepihak yang seolah menggambarkan dirinya dan sang adik di Gudo sebagai pihak yang abai.
Fakta Bantuan Sosial: Bantuan Tetap Berjalan, Tidak Pernah Terputus
Selama tinggal di Mojokrapak, Arifin dan ibunya tercatat sebagai penerima berbagai bantuan sosial, termasuk program sembako untuk disabilitas, bantuan beras 20 kg, uang tunai dari kecamatan hingga KIS (Kartu Indonesia Sehat) untuk perawatan medis.
Mujiono mengakui sering menjadi orang yang bertugas mengambilkan bantuan-bantuan tersebut.
Sekretaris Desa Mojokrapak, Khusnul Akhlak, juga memastikan bahwa Arifin tetap menjadi penerima bansos, dan seluruh kebutuhannya dalam kondisi aman.
“Alhamdulillah kondisinya sehat dan tidak kekurangan apa pun,” ujarnya.
Dinas Sosial: Data Valid, Hak Bantuan Arifin Tetap Aman
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang, Agung Hariadi, menegaskan bahwa pihaknya telah turun menangani persoalan ini.
“Bantuan atas nama Arifin tetap berjalan. Semua hak-haknya kami pastikan kembali dapat diakses,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa keluarga almarhumah Syamsijah terdaftar dalam basis data kemiskinan (DTSEN Desil 2) serta menerima program Sembako, BLTS Kesra, PBI-N (Jaminan Kesehatan) dan bantuan sosial lainnya.
Agung menegaskan bahwa tidak ada warga miskin di Jombang yang dibiarkan tanpa perhatian, setiap laporan yang masuk langsung diperiksa dan diverifikasi.
Munculnya Tekanan Psikis akibat Opinionalisasi Medsos
Mujiono mengaku secara mental terdampak oleh opini yang digiring tanpa konfirmasi.
“Informasi yang tidak benar itu berdampak sekali. Saya diserang omongan tetangga dan masyarakat yang tidak tahu faktanya,” ujarnya.
Ia berharap isu-isu seperti ini tidak disebarkan tanpa klarifikasi, apalagi menyangkut martabat keluarga.
Pelajaran Penting: Verifikasi Harus Didahulukan, Bukan Sensasi
Kasus ini menjadi contoh bagaimana sebuah unggahan medsos yang tidak terverifikasi dapat menciptakan stigma, bahkan tekanan mental, bagi pihak yang sebenarnya telah menjalankan kewajiban dengan baik.
Fakta dari keluarga, desa, hingga Dinas Sosial menunjukkan bahwa Arifin tidak pernah ditelantarkan. Perpindahan tempat tinggal Arifin pun dilakukan demi perawatan yang lebih intensif oleh keluarga lain.
Di tengah maraknya media abal-abal dan akun penyebar sensasi, kasus ini menjadi pengingat bahwa publik perlu lebih bijak memilih sumber informasi dan memverifikasi kebenarannya. (Fit)












Komentar untuk post