JOMBANG.TV— Udara pagi Sleman terasa lembut ketika rombongan TP PKK Kabupaten Jombang turun dari bus. Kali ini anggota dan pengurus TP PKK Jombang mengenakan batik berwarna coklat dan hitam. mereka terlihat rapi, namun yang paling mencolok bukanlah warna kain melainkan pancaran antusiasme pada wajah-wajah para kader.
Mereka datang bukan dengan tangan kosong. Mereka membawa harapan, membawa tekad, dan membawa semangat untuk belajar. Hari itu, Sleman menjadi ruang perjumpaan dua kabupaten yang sama-sama percaya bahwa kekuatan bangsa dimulai dari ketangguhan keluarga.
Senyuman Sleman Menyambut: “Gerakan PKK Lebih Kuat Jika Kita Terhubung”

Acara dibuka Endang Kusmawati, Sekretaris 2 TP PKK Sleman, dengan sapaan hangat yang langsung mencairkan suasana.
“Selamat datang di Sleman. Kehadiran ibu-ibu dari Jombang menambah semangat kami untuk terus mengembangkan gerakan PKK,” ujarnya sambil tersenyum.
Setelah memperkenalkan para pengurus Sleman satu per satu, ia menambahkan, Gerakan PKK akan menjadi lebih kuat ketika bisa saling terhubung satu sama lain.
“Silaturahmi seperti ini adalah jembatan untuk berbagi praktik terbaik yang bisa dipelajari untuk menjalankan program ke depan,” ungkapnya.
Suasananya sederhana, namun penuh kekeluargaan. Tidak ada batas-batas formalitas, yang ada adalah perempuan-perempuan yang datang dengan kesamaan tujuan, memperbaiki kehidupan keluarga di daerah masing-masing.
“PKK Siap Beraksi” Komitmen Jombang yang Mengalir dari Hati
Ketua TP PKK Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, berdiri menyampaikan sambutannya. Suaranya tenang, namun sarat keyakinan.
“Kami datang untuk belajar, menjemput pengalaman, dan membawa pulang inspirasi. PKK Jombang ingin terus bergerak, memperkuat keluarga, dan menyiapkan kader yang semakin tangguh.”
Ia kemudian mengulang slogan PKK Jombang, yang disambut serentak oleh para kader:
“PKK Siap Beraksi, Beri Edukasi, dan Berkolaborasi.”
Yuliati melanjutkan, dengan nada yang lebih lembut namun tegas:
“Tantangan keluarga saat ini semakin kompleks, stunting, narkoba, pernikahan dini. Di sinilah peran kader PKK sangat penting. Kader adalah ujung tombak perubahan di desa,” ungkapnya.
Beberapa kader mengangguk pelan. Ada kebanggaan yang terasa setiap kali ia menyebut kata kader, seolah mereka adalah pahlawan tanpa panggung yang menjaga masa depan generasi kecil di desa-desa Jombang.
Kisah Sleman: Dari Halaman Rumah, Jingle yang Menguatkan Hingga Kain Batik Khas Sleman
Ketika mikrofon berpindah ke tangan Haryanti, Sekretaris 1 TP PKK Sleman sekaligus narasumber utama, suasana semakin hidup. Ia menyampaikan program Sleman bukan sebagai daftar kegiatan, tetapi sebagai cerita-cerita yang tumbuh dari kehidupan warga.
“Di Sleman, kami percaya bahwa pemberdayaan keluarga dimulai dari hal-hal sederhana. Dari dapur, dari halaman rumah, dari ruang-ruang kecil yang dikelola ibu-ibu.”
Ia memulai dari Sekolah Jumat PKK, sebuah program mingguan yang tersebar di berbagai kalurahan.
“Sekolah Jumat menjadi ruang tumbuh bagi para kader untuk selalu percaya diri, mandiri, dan mampu meningkatkan ekonomi keluarganya,” katanya.
Ibu-ibu Jombang tampak antusias, membayangkan bagaimana program seperti ini bisa dijalankan di desa mereka.
Kemudian ia menjelaskan digitalisasi PKK Sleman yang kini mulai menjadi rujukan daerah lain.
“Digitalisasi kami lakukan agar administrasi lebih tertib dan transparan. Tapi lebih dari itu, kami ingin PKK menjadi organisasi yang adaptif dan relevan bagi generasi sekarang. Memang belum memiliki website, maksimal kami baru mengolah social media,” katanya.
Tak lupa, ia menyinggung prestasi enam kali Juara 1 DIY Pokja II, serta keberhasilan Gelari Pelangi.
“Prestasi itu hasil kerja bersama. Bukan soal lombanya. Tapi bagaimana program ini memberi dampak nyata bagi warga.”
Suara Haryanti terdengar bersahaja, tanpa klaim berlebihan. Justru di situlah kekuatannya. Program-program itu terasa dekat, realistis, dan penuh kesungguhan.
Di tengah penyampaian materi, Yuliati Nugrahani Warsubi diberikan kain batik khas Sleman. Motif utama yang melambangkan kekayaan hayati Sleman yang menggabungkan batang, daun, dan bunga parijotho (tanaman khas Merapi) dengan buah salak pondoh.
Menyulam Inspirasi: Dari Kebun Kecil hingga Gerakan Besar
Rombongan kemudian diajak mengenal program Aku Hatinya PKK, di mana keluarga diberdayakan melalui pengelolaan halaman rumah, serta GKST2B, pembinaan keluarga sehat, tangguh, dan tanggap bencana.
Bagi sebagian kader Jombang, gambaran kecil tentang ibu-ibu Sleman yang menanam sayur di halaman mereka adalah inspirasi besar. Dari hal kecil, lahir ketahanan pangan. Dari satu keluarga, lahir ketangguhan desa.
Yuliati Nugrahani Warsubi, Ketua TP PKK Jombang, mengingat kembali perjuangannya di desa Mojokrapak kala itu. Ia tidak hanya menjadi pemimpin organisasi, tetapi juga penggerak langsung program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang membawa Mojokrapak meraih penghargaan sebagai desa berketahanan pangan terbaik ketiga se Jawa Timur pada 2013.
Sama seperti gerakan yang dilakukan di Sleman, Yuliati mengajak para Ibu untuk menanam di pekarangan rumah warga. Mulai dari sayur hingga tanaman obat, sebuah upaya sederhana yang menghasilkan ketahanan pangan nyata.
Tak hanya tanaman, Yuliati juga menginisiasi Bank Sampah Mojokrapak, mengubah sampah menjadi sumber daya. Sampah organik dipilah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik diolah menjadi berkah, seperti pot tanaman atau produk kreatif lain yang bisa dijual.
“Saya percaya bahwa ketahanan keluarga dimulai dari rumah. Ketika ibu-ibu punya keterampilan, lingkungan bersih terjaga, dan sampah punya nilai ekonomi, di situlah kemandirian tumbuh,” tambahnya, suaranya penuh keyakinan.
Yuliati pun kembali menegaskan makna kunjungan ini.
“Semoga dari Sleman kami membawa ilmu dan ide-ide terbaik untuk memperkuat gerakan PKK dari desa hingga kabupaten di Jombang.”
Pulang dengan Cahaya Baru

Saat acara berakhir, suasana hangat tidak langsung surut. Para kader bersalaman, bertukar nomor telepon, bertukar cerita singkat tentang kehidupan di desa masing-masing. Inilah esensi dari studi informasi: bukan sekadar menyalin program, tetapi membangun hubungan hati ke hati.
Sebelum rombongan berpamitan, Yuliati menutup dengan penuh kerendahan hati:
“Jika selama kunjungan kami terdapat hal-hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf. Semoga Allah memberikan keberkahan atas pertemuan ini dan menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai amal yang bermanfaat.”
Dan ketika bus Jombang perlahan meninggalkan pendopo kabupaten Sleman, para kader membawa lebih dari sekadar catatan. Mereka membawa semangat baru, semangat untuk menguatkan keluarga, menggerakkan potensi desa, dan menyalakan kembali harapan kecil yang mungkin sempat redup.
Di tangan perempuan-perempuan inilah masa depan keluarga Indonesia dijaga. Dari Jombang menuju Sleman, dari desa menuju desa, gerakan ini terus hidup dengan ketulusan, kerja nyata, dan hati yang penuh tekad. (Fit)











Komentar untuk post