JOMBANG.TV-Malam itu, Gedung PKK Jombang menjelma menjadi ruang hangat tempat cerita, identitas, dan rasa cinta pada Indonesia saling berjumpa. Satu etnis dan tiga belas suku duduk berdampingan, tersenyum, saling menyapa, dan merayakan perbedaan dalam balutan kebersamaan.
Inilah Temu Suku dan Etnis yang digelar Forum Pembauran dan Kebangsaan (FPK) Kabupaten Jombang, Senin malam, 15/12/2025. Mengusung tema “Merajut Harmoni Sosial demi Ketahanan Sosial dan Budaya Berbasis Kearifan Lokal untuk Jombang Maju dan Sejahtera untuk Semua”, kegiatan ini menjadi potret hidup Bhinneka Tunggal Ika di Kabupaten Jombang.
Yel-yel “FPK Jombang: Bhinneka Tunggal Ika!” menggema lantang, disambut tepuk tangan penuh semangat. Di ruangan itu hadir perwakilan Suku Jawa, Madura, Sunda, Batak, Minang, Minahasa, Banjar, Makassar, Ambon, Bali, NTT, Papua, Melayu Palembang, hingga Etnis Tionghoa. Ragam latar belakang, satu tujuan, yaitu menjaga harmoni.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jombang, Budi Winarno, menegaskan pentingnya peran FPK sebagai mitra aktif pemerintah.

“Tanpa keterlibatan FPK, pembinaan dan koordinasi keberagaman tidak akan berjalan optimal. Melalui FPK, kami berupaya menjadikan Jombang sebagai miniatur Bhinneka Tunggal Ika, tempat integrasi sosial antar ras, suku, dan etnis terwujud tanpa menghilangkan identitas masing-masing,” ujarnya.

Menurutnya, FPK bukan sekadar forum dialog, melainkan jembatan kebersamaan yang mampu mencegah gesekan sosial dan menumbuhkan rasa saling memiliki di tengah masyarakat yang majemuk.
Suasana semakin hidup ketika satu per satu penampilan budaya ditampilkan. Dari irama khas Papua yang menghentak, vokal anggun Bali, hingga ekspresi budaya suku-suku lain yang tampil penuh kebanggaan.
Setiap tarian dan setiap lagu akhirnya bukan sekadar pertunjukan, melainkan pernyataan cinta pada Indonesia.
Ketua FPK Kabupaten Jombang, Gus Zaimudin Wijaya As’ad, menyampaikan rasa haru dan terima kasih atas totalitas seluruh peserta.
“Atas nama FPK, saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan pengorbanan panjenengan semua. Terutama saudara-saudara kita dari Papua, yang rela mengorbankan rasa tidak nyaman demi kebersamaan di FPK Jombang. Itu adalah wujud cinta pada Indonesia,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa FPK memiliki kekuatan yang unik.
“Kalau organisasi keagamaan disatukan oleh agama, organisasi profesi oleh profesi. Tapi FPK disatukan bukan oleh budaya dan suku yang sama, melainkan oleh satu ikatan besar: Republik Indonesia,” katanya.
Gus Zaimudin juga mengingatkan bahwa manusia tidak memilih dilahirkan dari suku mana.
“Kita lahir sebagai suku di mana Tuhan menciptakan kita. Ada Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, bukan untuk saling membanggakan atau merendahkan, dan kemuliaan sejati di sisi Allah adalah ketakwaan,” katanya.
“Keberagaman ini adalah rencana Tuhan. Tugas kita adalah merawatnya, membangun kebersamaan, dan menjaga ketenteraman Jombang agar penuh berkah,” tambahnya penuh makna.
Sementara itu, Bupati Jombang yang diwakili Asisten I Setda Jombang, Purwanto, menilai kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam merawat keberagaman.
“Peran FPK sangat strategis dalam menjaga harmoni sosial dan mencegah potensi konflik. FPK menjadi wadah komunikasi yang efektif, tempat bertemunya berbagai latar belakang budaya sehingga interaksi sosial dapat berkembang secara sehat,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pertemuan, Temu Suku dan Etnis FPK Jombang menjadi pengingat bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling menguatkan.
Di kota santri ini, perbedaan dirajut menjadi persaudaraan, pelan tapi pasti demi Jombang yang damai, maju, dan sejahtera untuk semua.











Komentar untuk post