JOMBANG.TV— Pagi di Aula Kecamatan Tembelang terasa lebih hidup dari biasanya. Ruangan yang sederhana itu dipenuhi wajah-wajah ramah para Bunda PAUD dari 10 kecamatan.
Mereka datang untuk sekaligus memastikan setiap anak di desa mereka mendapat pendidikan yang layak sejak usia dini.
Kehadiran Bunda PAUD Kabupaten Jombang, Hj. Yuliati Nugrahani Warsubi, bersama Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten, Hj. Ema Erfina Salmanudin Yazid, Ketua DWP Jombang, Lilik Agus Purnomo dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Wor Windari, membuat suasana semakin hangat. Kehadiran para tokoh perempuan ini seolah menjadi energi tambahan bagi seluruh peserta.
Acara dibuka dengan doa dan ucapan syukur, menghadirkan nuansa penuh kekhidmatan. Para peserta menyimak dengan khusyuk ketika pembawa acara menyebut bahwa langkah kaki mereka ke tempat itu semoga dicatat sebagai amal baik.
Banyak dari mereka adalah perempuan-perempuan desa yang setiap harinya bekerja dalam kesederhanaan, namun hari itu mereka duduk bersama untuk membicarakan masa depan ratusan bahkan ribuan anak di Jombang.
Dalam sambutannya, Yuliati Warsubi berbicara dengan nada yang lembut namun tegas. Ia mengingatkan bahwa peran Bunda PAUD bukan sekadar gelar atau posisi dalam struktur pemerintahan. Mereka adalah penggerak pendidikan yang langsung bersentuhan dengan keluarga, lembaga PAUD, dan lingkungan sosial.
Ia menegaskan bahwa PAUD yang bermutu harus menjadi komitmen bersama, terutama layanan PAUD Holistik Integratif yang mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, dan pengasuhan.
“Anak-anak kita harus tumbuh sehat, ceria, dan mendapat stimulasi yang benar sejak dini. Di tangan panjenengan semua, masa depan Jombang dipersiapkan,” ucapnya, disambut anggukan para peserta.
Setelah itu, suasana hening berganti dengan kehangatan saat Hj. Ema Erfina Salmanudin Yazid mengambil alih sesi. Ia menuturkan pentingnya memahami peran, tugas, dan fungsi Bunda PAUD sebagaimana tertuang dalam pedoman yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025.
Menurutnya, penguatan peran Bunda PAUD harus dilakukan melalui komunikasi yang aktif, pendampingan yang konsisten, dan sinergi dengan pemerintah desa serta lembaga PAUD.
Kata-katanya menggugah banyak peserta yang selama ini mungkin bekerja dalam diam, tanpa tahu bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya sangat besar nilainya.
Kegiatan sosialisasi ini dilandasi amanah dari Pedoman Peran Bunda PAUD 2025 dan menjadi tindak lanjut dari pengukuhan Bunda PAUD Kecamatan yang berlangsung pada 13 November 2025.
Di Tembelang, kegiatan tahap pertama ini diikuti oleh 60 peserta dari sepuluh kecamatan: Tembelang, Ploso, Kabuh, Plandaan, Megaluh, Kudu, Ngusikan, Kesamben, Sumobito, dan Peterongan.
Esok harinya, kegiatan serupa dilaksanakan di Kecamatan Ngoro untuk sebelas kecamatan lainnya. Dengan demikian, seluruh wilayah Jombang mendapat kesempatan yang sama untuk memperkuat peran Bunda PAUD secara merata.
Materi yang disampaikan pun tidak berhenti pada teori. Peserta dibimbing memahami bagaimana peran Bunda PAUD Kecamatan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata, bagaimana tugas dan fungsi dapat dijalankan dengan lebih efektif, bagaimana konsep PAUD Holistik Integratif bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hingga bagaimana keluarga dan masyarakat dapat diajak menjadi mitra pendidikan.
Di sela-sela pemaparan materi, para peserta saling bertukar pandangan, berbagi pengalaman tentang suka duka mendampingi anak-anak usia dini, dan mencari solusi bersama atas tantangan yang mereka hadapi di lapangan.
Saat acara mendekati akhir, suasana ruangan terasa berbeda. Ada kelelahan, tetapi lebih banyak lagi semangat. Para Bunda PAUD saling berjabat tangan, sebagian berfoto bersama, sebagian berbagi cerita singkat tentang apa yang akan mereka lakukan sepulang dari kegiatan ini.
Dari Tembelang, tampak jelas bahwa sosialisasi ini bukan hanya sebuah agenda formal, melainkan ruang untuk menyatukan tekad, bahwa pendidikan anak usia dini harus menjadi gerakan bersama, bukan tugas yang dipikul sendirian.
Dan ketika para peserta bersiap kembali ke kecamatan masing-masing, satu pesan yang menggema oleh seluruh narasumber tetap tertinggal, bahwa masa depan Jombang tidak akan lahir dari gedung-gedung besar atau proyek-proyek megah, melainkan dari ruang-ruang kecil PAUD di desa-desa.
Dari tangan para Bunda PAUD yang bekerja dengan hati. Dari pelukan, bimbingan, dan perhatian yang mereka berikan kepada anak-anak setiap hari.
Di Tembelang, hari itu, semangat itu tumbuh. Dan dari sana, ia mulai bergerak ke seluruh Jombang. (Fit)












Komentar untuk post