JOMBANG.TV- Pagi itu, hamparan lahan tebu di Kesamben tampak seperti kanvas besar yang siap dilukis ulang. Embun yang belum sepenuhnya menguap menyisakan kilau di antara batang-batang tebu tua, saksi-saksi masa panen yang makin menurun dari tahun ke tahun.
Di tengah hamparan itu akan bermula peluncuran Program Percepatan Swasembada Gula Nasional 2025, yang tahun ini dimulai dari Jombang.
Deretan mobil pejabat berhenti tepat di dekat tenda utama. Dari sana turun Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Plt. Dirjen Perkebunan Kementan RI Abdul Roni Angkat, Bupati Jombang, H Warsubi, unsur Forkopimda, jajaran DPRD, hingga para pimpinan pabrik gula.
Aroma tanah basah, derap langkah pejabat diiringi tatapan harap para petani seolah menjadi pembuka acara tanam perdana tebu yang digadang menjadi momentum kebangkitan produktivitas tebu nasional.
Jombang, Lumbung Tebu yang Sedang Bersolek
Bupati Warsubi berdiri tidak jauh dari bibit tebu yang ditata rapi. Dengan kemeja putih sederhana, ia menyampaikan fakta yang kini menjadi dasar perjuangan para petani Jombang.
“Kita punya 10.787 hektare areal tanam. Produksinya sudah mencapai 787 ribu ton, dengan rendemen yang juga naik,” ujarnya. Nada optimistis itu bukan tanpa alasan. Angka rendemen rata-rata yang kini mencapai 7,11 persen, naik dari 6,5 persen, adalah bukti bahwa kualitas tebu Jombang sedang membaik.
Namun Warsubi tidak menutup mata. Banyak lahan tebu yang sudah terlalu sering dipangkas. Ratoon yang dipertahankan bertahun-tahun sehingga produktivitas tergerus.
“Dengan bongkar ratoon ini, target kita jelas. Bukan lagi 70 ton per hektare, tetapi 80 hingga 100 ton,” katanya, menegaskan ambisi yang sejalan dengan target nasional swasembada gula pada 2028.
Pemerintah daerah, kata Warsubi, kini berharap dukungan penuh dari pusat dan provinsi. Untuk mencapai hasil gemilang, pasokan pupuk bersubsidi harus lebih lancar, alsintan modern yang bisa menekan biaya petani harus tersedia serta penyediaan ekosistem regulasi yang memberi ruang bagi tebu tumbuh sebagai industri strategis.
Emil Dardak: Ketika Petani Jombang Bergerak Lebih Dulu
Di hadapan para petani yang duduk di kursi plastik, Emil Dardak membuka sambutannya dengan sebuah fakta menarik.
“Sebanyak 2.195 hektare lahan di Jombang sudah melakukan bongkar ratoon secara mandiri sebelum program ini resmi berjalan.”
Kalimat itu membuat beberapa petani saling bertatap dan mengukir senyum sekaligus lega karena kerja keras mereka diakui langsung oleh pemerintah provinsi
Emil menegaskan satu hal yang langsung disambut tepuk tangan panjang.
“Petani yang telah membongkar ratoon secara mandiri harus tetap mendapatkan bantuan operasional.”

Di meja dokumentasi, kamera-kamera bergerak cepat menangkap momentum ketika Emil menyerahkan Traktor Roda 4 kepada Gapoktan penerima. Di kejauhan, terlihat puluhan petani menatap alat itu cukup lama, seolah sedang menghitung berapa hari kerja yang bisa dihemat, berapa biaya yang bisa diirit.
Tebu Bukan Lagi Sekadar Gula
Dari podium, Emil sempat menyinggung arah masa depan tebu yang kini tak lagi berhenti di gula kristal putih.
“Tebu ke depan bisa menjadi bahan baku bio metanol, energi hijau yang kita butuhkan untuk kemandirian nasional,” ungkapnya.
Sebuah pernyataan yang mungkin terdengar futuristik, namun bukan tidak mungkin menanamkan harapan baru tentang pengelolaan pabrik energi berbasis tebu di desa sendiri.
Program resmi Kementan tahun ini menetapkan Jombang menerima alokasi bongkar ratoon 502 hektare, yang kini sedang memasuki distribusi benih.
Tanam Simbolis, Tanam Harapan
Prosesi tanam tebu bersama Wagub, Bupati, dan jajaran Forkopimda menjadi puncak acara. Mereka menancapkan bibit tebu ke tanah, tetapi para petani tahu, yang ditanam bukan hanya batang tebu muda, melainkan harapan baru untuk memperbaiki rantai produksi yang sempat mandek.
Program bongkar ratoon kali ini tidak hanya menyasar angka produksi. Dampaknya jauh lebih dalam. Mulai dari meningkatkan pendapatan petani karena produktivitas dan rendemen melonjak hingga menstabilkan harga gula nasional karena Jawa Timur menyumbang hampir 50% produksi nasional.
Selain itu, industri tebu Jombang akan bergerak lebih efisien berkat mekanisasi. Dan tentu saja, pintu hilirisasi terbuka, mulai dari etanol hingga bio energi.
Di tengah suhu yang mulai panas, para petani pelan-pelan meninggalkan lahan. Tapi mereka pulang dengan sesuatu yang jarang hadir: rasa percaya. Bahwa tebu yang tumbuh bukan hanya untuk pabrik gula, melainkan juga untuk masa depan desa dan hidup anak-anak mereka. (Fit)












Komentar untuk post