JOMBANG.TV — Ajakan untuk menghapus sekat antara “perintis” dan “pewaris” dalam dunia usaha disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Jombang, Achmad Fachruddin, dalam sebuah episode podcast resmi DPRD Jombang yang tayang belum lama ini.
Dalam pernyataannya, Fachruddin atau biasa disapa Farud ini menegaskan bahwa perbedaan latar belakang dalam memulai usaha bukanlah alasan untuk saling merendahkan atau menilai satu sama lain.
“Hari ini yang kita butuhkan adalah kolaborasi agar ekonomi kreatif dan UMKM di Jombang berkembang lebih cepat dan lebih kuat,” ungkapnya.
Farud yang saat ini duduk di Komisi C DPRD Jombang ini menilai bahwa iklim ekonomi Jombang sedang berada pada momentum positif. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah pelaku usaha mikro di Kabupaten Jombang.
“Seperti kita lihat, berdasarkan data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, jumlah usaha mikro melonjak dari 9.061 unit pada 2022 menjadi 13.128 unit pada 2023. Lonjakan signifikan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk terjun ke dunia usaha,” terangnya.
Peningkatan usaha mikro tersebut juga diperkuat oleh kinerja ekonomi daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Jombang mencapai 5,04 persen pada 2023, dengan sektor perdagangan, jasa, dan UMKM menjadi salah satu penopang utama.
“Perkembangan ini merupakan potensi besar yang harus dijaga dengan pendekatan kolaboratif bukan justru diperdebatkan,” katanya.
Dalam podcast itu, Farud menyampaikan bahwa label “perintis” dan “pewaris” seringkali menimbulkan perdebatan yang tidak perlu, terutama di media sosial.
Ia menegaskan bahwa setiap pelaku usaha, baik yang memulai dari nol maupun yang melanjutkan usaha keluarga, memiliki tantangan dan proses belajar masing-masing.
“Yang penting bukan dari mana kita mulai, tetapi bagaimana kita bergerak bersama,” ujarnya dalam percakapan tersebut.
Sebagai Ketua Gekrafs Jombang (Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional Kabupaten Jombang) periode 2024–2027, Farud juga aktif mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif.
Ia mengatakan, anak muda Jombang kini memiliki peluang besar untuk berkembang, apalagi dengan kemudahan teknologi, literasi digital, dan akses pasar online. Karena itu, ia mengajak pelaku usaha pemula untuk tidak berkecil hati, dan mengajak pelaku usaha mapan untuk berperan sebagai mentor dan mitra kolaborasi.
Fachruddin juga menyoroti bahwa keberhasilan ekonomi daerah tidak bisa hanya bertumpu pada satu pihak. Pemerintah, DPRD, pelaku usaha, komunitas ekonomi kreatif, dan masyarakat harus membangun sinergi.
“Jika perintis dan pewaris mau berjalan bersama, saling menghargai, dan saling menguatkan, maka UMKM Jombang akan menjadi kekuatan ekonomi yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh besar,” jelasnya.
Melalui pernyataan yang disampaikan dalam podcast tersebut, Farud berharap narasi “pewaris vs perintis” tidak lagi menjadi pemecah, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong royong di kalangan pelaku usaha.
“Dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan jumlah UMKM yang terus meningkat, saya optimistis bahwa Jombang dapat mengambil peran lebih besar dalam peta ekonomi kreatif Jawa Timur,” ungkapnya yakin.
Jika kolaborasi dapat terwujud secara nyata, ia yakin Jombang bukan hanya menjadi daerah yang produktif, tetapi juga menjadi rumah bagi wirausaha muda yang kreatif, inovatif, dan mampu bersaing hingga tingkat nasional. (Fit)










Komentar untuk post