JOMBANG.TV – PUSPA Arimbi Kabupaten Jombang kembali melanjutkan program edukasinya melalui PUSPA Goes to School, kali ini di SMKN 1 Jombang.
Kamis, 5 Desember 2025, PUSPA Arimbi Kabupaten Jombang bersama siswa SMKN 1 Jombang sebanyak 75 siswa mengikuti kegiatan dengan antusias.
Hadir Ketua PUSPA Arimbi Octadella Bilytha Permatasari, Sekretaris PUSPA Sufie Halala Ramadhanti, serta sejumlah narasumber dari lintas lembaga seperti Puskesmas Jabon, Aliansi Inklusi, dan WCC Jombang.
Kegiatan ini membahas pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi dan kesehatan mental pada remaja.
Ketua PUSPA Arimbi, Octadella menyampaikan bahwa mimpi adalah kompas hidup remaja.
“Berani bermimpi berarti berani menjaga diri. Kalau kita punya mimpi, kita tahu mana pilihan yang harus diambil dan mana yang berisiko menghambat masa depan,” ujar Octadella.
Ia menegaskan bahwa remaja harus paham mengenai organ reproduksi, menjaga kebersihan saat menstruasi atau pubertas, serta mengenali bentuk kekerasan seksual sejak dini. Menurutnya, pemahaman tersebut akan berdampak langsung pada cara remaja menjaga diri dan mengambil keputusan.
“Kesehatan reproduksi dan mental itu erat hubungannya. Saat anak memahami tubuhnya, mereka lebih sadar batasan diri dan konsekuensi dari tindakan yang salah,” lanjutnya.
Pemahaman Fisik dan Mental Harus Seimbang
Pemateri dari Puskesmas Jabon, Tri Afridaryanti menekankan, kesehatan remaja tidak hanya dilihat dari tubuh yang bebas penyakit, tetapi bagaimana mereka menjaga keseimbangan emosional.
Ia mengajak siswa untuk mulai memperhatikan pola hidup sehat sederhana yang kerap diabaikan.
“Kesehatan bukan hanya soal tidak sakit. Remaja harus bisa mengelola stres, tidur cukup, aktif bergerak, dan tetap bersosialisasi. Itu penting agar pikiran mereka jernih,” jelas perempuan yang akrab disapa Yanti ini.
Ia juga menambahkan, remaja harus mengetahui bahwa ada layanan kesehatan peduli remaja di fasilitas kesehatan yang dapat membantu mereka ketika mengalami kebingungan atau membutuhkan pendampingan.
Sementara itu, Aliansi Inklusi, Fuad menyampaikan, fase remaja adalah masa kritis. Ia mengingatkan bahwa tekanan akademik, media sosial, hingga pergaulan sangat mempengaruhi cara remaja memandang diri.
“Perubahan perilaku, menarik diri, prestasi menurun, sering murung, atau gangguan tidur adalah sinyal yang harus diperhatikan. Jangan dianggap biasa,” tegas Fuad.
Ia menilai komunikasi terbuka adalah langkah terbaik untuk mencegah masalah yang lebih serius, terutama gangguan kecemasan dan depresi.
Sementara itu, dari WCC Jombang, Pri Wahyu atau kerap disapa Ayu menekankan untuk melakukan pencegahan kekerasan seksual. Ia menyebut, banyak kasus terjadi karena minimnya pengetahuan dasar tentang batas tubuh.
“Anak harus tahu bahwa tubuhnya punya hak. Ketika mereka paham itu, mereka berani menolak dan berani mencari bantuan,” ungkap Ayu.
PUSPA Berkomitmen Terus Mengedukasi Remaja
Di akhir kegiatan, PUSPA mengajak pelajar untuk membuat komitmen perlindungan diri melalui cara sederhana: menjaga kebersihan tubuh, memilih lingkungan pertemanan yang sehat, serta memegang teguh cita-cita.
Octadella menutup kegiatan dengan ajakan reflektif.
“Kalau kalian punya mimpi, jagalah diri baik-baik. Pendidikan, relasi, dan kesehatan harus berjalan selaras supaya mimpi itu tercapai,” pesannya.
PUSPA berharap kegiatan ini terus menjadi ruang belajar yang hangat, terbuka, dan mudah diterima remaja. Program serupa akan diteruskan ke sekolah-sekolah lain, agar semakin banyak pelajar memiliki bekal pengetahuan dan keberanian untuk merawat diri serta masa depannya. (Fit)












Komentar untuk post