JOMBANG.TV– Karpet merah di ruang perpustakaan Desa Mojokrapak kembali menjadi ruang belajar bagi belasan perempuan desa yang mengikuti penguatan program Sekolah Perempuan Cemerlang Mojokrapak (SEKOPER), Jumat (5/12/2025).
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi dan pembentukan SEKOPER pada akhir November lalu.
Tampak hadir Ketua PUSPA Arimbi Octadella Bilytha Permatasari, Ketua PKK Mojokrapak Lilik Hamidah, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Jombang Olvy Robertina Loedji, SH, serta pemateri dari Yayasan Pesantren Srikandi (YPS) Fifi Ekawati Rohmah dan fasilitator pendamping perempuan dan anak Niken Kinesti.
Suasana pertemuan berlangsung sederhana, tanpa panggung dan tanpa dekorasi berlebihan. Rak-rak buku di sekitar ruangan menjadi saksi bagaimana para perempuan membuka catatan dan saling berdiskusi mengenai materi inti tentang pemahaman 10 indikator dasar Sekoper yang menjadi arah perubahan sosial di tingkat desa.
Belajar Indikator Tidak Sekadar Hafalan

Materi penguatan disampaikan dengan pendekatan berbasis contoh nyata. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan tetapi diminta menuliskan pengalaman dan realitas yang mereka temui di lingkungan sekitar.
Indikator tersebut meliputi pengorganisasian perempuan dan anak, tersedianya data pilah di tingkat desa, peraturan desa yang ramah perempuan dan anak, akses pembiayaan melalui dana desa, hingga peningkatan keterwakilan perempuan dalam lembaga formal maupun sosial.
Pemateri Fifi Ekawati Rohmah menegaskan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari lingkup terkecil.
“Perubahan itu tidak harus langsung besar, tetapi mulai dari diri sendiri dan keluarga. Ketika perempuan berdaya, maka desa ikut bergerak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya data pilah sebagai dasar advokasi.
“Tanpa data, perempuan sering tidak terlihat dalam kebijakan. Data pilah itu pintu awal,” tambahnya.
Hal itu diperkuat oleh Niken Kinesti yang mengingatkan bahwa kader harus menjadi agen perubahan, bukan sekadar peserta pelatihan.
“Kader bukan hanya hadir sebagai pendengar, tetapi menjadi penggerak sosial yang menyampaikan suara perempuan lain,” ucapnya.
Peluang Akses Layanan Sosial Dibuka
Pada sesi berikutnya, Olvy Robertina Loedji dari Dinas Sosial Kabupaten Jombang menyampaikan informasi mengenai akses layanan sosial yang dapat dimanfaatkan perempuan Mojokrapak.
Mulai dari pelayanan sosial dasar, mekanisme bantuan keluarga tertentu hingga pendampingan bagi perempuan atau anak dalam situasi rentan.
“Program sosial itu ada dan bisa diakses. Sekoper menjadi jembatan agar informasinya sampai dan dimanfaatkan,” jelas Olvy.
Sejumlah peserta mulai menanyakan alur layanan, menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak hanya tentang sosialisasi tetapi sekaligus menjadi peluang nyata.
Aspirasi Kesehatan: Kader Minta Dukungan
Dalam sesi diskusi terbuka, muncul aspirasi tentang fasilitas kesehatan bagi kader desa. Umi Sa’adah menyampaikan harapan agar akses berobat gratis di Puskesmas bagi kader bisa kembali diberlakukan sebagaimana sebelumnya.
Aspirasi tersebut diterima peserta lain dan dicatat sebagai rekomendasi tindak lanjut yang akan diteruskan kepada pihak desa.
Hal ini menjadi bagian penting dari prinsip Sekoper bahwa perempuan tidak hanya belajar, tetapi mengartikulasikan kebutuhan dan memperjuangkannya.
Menuju Ekonomi Kecil yang Realistis
Pertemuan tidak berhenti pada diskusi. Para perempuan menghasilkan rencana kerja konkret berupa pelatihan pembuatan tiga jenis kue kering menjelang hari raya.
Pelatihan ini dirancang sebagai peluang ekonomi berbasis rumah tangga, terutama bagi peserta yang ingin menambah pendapatan.
“Jika tidak untuk dijual, setidaknya keluarga dapat mengonsumsi kue yang dibuat sendiri tanpa harus membeli dengan harga tinggi,” ujar Olvy.
Rencana ini dipandang kecil namun nyata, menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu berbentuk proyek besar, tetapi langkah pragmatis yang berdampak.
Mengikat Komitmen melalui Kontrak Belajar
Sebelum kegiatan ditutup, seluruh peserta menyepakati kontrak belajar sebagai komitmen bersama. Kesepakatan tersebut memuat kedisiplinan kehadiran, penyelesaian materi hingga tuntas, terlibat aktif dalam diskusi, serta menjaga suasana belajar yang saling mendukung.
Kontrak ini memberi pesan bahwa peserta bukan penerima program, tetapi aktor yang bertanggung jawab atas perubahan diri dan lingkungan.
SEKOPER dan PUSPA dalam Ekosistem Pemberdayaan
SEKOPER Mojokrapak merupakan program yang diinisiasi PUSPA Arimbi, yaitu forum multipihak yang bekerja untuk kesejahteraan perempuan dan anak.
PUSPA menghimpun akademisi, organisasi masyarakat, pegiat perlindungan perempuan dan anak, serta kelompok usaha, untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan.
Ketua PUSPA Arimbi, Octadella Bilytha Permatasari menyampaikan motivasi singkat yang menguatkan peserta.
“Yang penting bukan siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mau berjalan konsisten untuk perubahan yang dirasakan langsung,” ujarnya.
Motivasi itu diterima dengan antusias, ditandai dengan beberapa peserta yang menyampaikan semangat baru.
Pertemuan itu memang berlangsung sederhana, tanpa dokumentasi panjang dan tanpa tepuk tangan meriah, butir-butir pemahaman yang muncul menjadi tanda bahwa perempuan Mojokrapak sedang bergerak.
Mereka mulai memahami haknya, merumuskan aspirasi, merancang usaha kecil, dan menyepakati komitmen.
Di ruangan berkarpet merah itu, pemberdayaan tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari lingkaran kecil perempuan desa yang ingin menata hidupnya dengan cara yang terukur, realistis, dan berdampak langsung bagi keluarganya serta lingkungan sekitar. (Fit)











Komentar untuk post